Sabtu, 10 Maret 2012

Bacaan Alkitab Setahun - Juni 2012

1 1 Raja 9:1-10:13; 2 Tawarikh 7:11-9:12
2 1 Raja 4; 10:14-29; 2 Tawarikh 1:14-17; 9:13-28; Mazmur 72
3 Amsal 1-3
4 Amsal 4-6
5 Amsal 7-9
6 Amsal 10-12
7 Amsal 13-15
8 Amsal 16-18
9 Amsal 19-21
10 Amsal 22-24
11 Amsal 25-27
12 Amsal 28-29
13 Amsal 30-31; Mazmur 127
14 Kidung Agung
15 1 Raja 11:1-40; Pengkhotbah 1-2
16 16 Pengkhotbah 3-7
17 Pengkhotbah 8-12; 1 Raja 11:41-43; 2 Tawarikh 9:29-31
18 1 Raja 12; 2 Tawarikh 10:1-11:17
19 1 Raja 13-14; 2 Tawarikh 11:18-12:16
20 1 Raja 15:1-24; 2 Tawarikh 13-16
21 1 Raja 15:25-16:34; 2 Tawarikh 17; 1 Raja 17
22 1 Raja 18-19
23 1 Raja 20-21
24 1 Raja 22:1-40; 2 Tawarikh 18
25 1 Raja 22:41-53; 2 Raja 1; 2 Tawarikh 19:1-21:3
26 2 Raja 2-4
27 2 Raja 5-7
28 2 Raja 8-9; 2 Tawarikh 21:4-22:9
29 2 Raja 10-11; 2 Tawarikh 22:10-23:21
30 Yoel

Bacaan Alkitab Setahun - Mei 2012

1 2 Samuel 20-21; 23:8-23; 1Tawarikh 20:4-8; 11:10-25
2 2 Samuel 23:24-24:25; 1 Tawarikh 11:26-47; 21
3 1 Tawarikh 22-24
4 Mazmur 30; 1 Tawarikh 25-26
5 1 Tawarikh 27-29
6 Mazmur 5-7; 10; 11; 13; 17
7 Mazmur 23; 26; 28; 31; 35
8 Mazmur 41; 43; 46; 55; 61; 62; 64
9 Mazmur 69-71; 77
10 Mazmur 83; 86; 88; 91; 95
11 Mazmur 108-109; 120-121;140; 143-144
12 Mazmur 1; 14-15; 36-37; 39
13 Mazmur 40; 49-50; 73
14 Mazmur 76; 82; 84; 90; 92; 112; 115
15 Mazmur 8-9; 16; 19; 21; 24; 29
16 Mazmur 33; 65-68
17 Mazmur 75; 93-94; 97-100
18 Mazmur 103-104; 113-114; 117
19 Mazmur 119:1-88
20 Mazmur 119:89-176
21 Mazmur 122; 124; 133-136
22 Mazmur 138-139; 145; 148; 150
23 Mazmur 4; 12; 20; 25; 32; 38
24 Mazmur 42; 53; 58; 81; 101; 111; 130-131; 141; 146
25 Mazmur 2; 22; 27
26 Mazmur 45; 47-48; 87; 110
27 1 Raja 1:1-2:12; 2 Samuel 23:1-7
28 1 Raja 2:13-3:28; 2 Tawarikh 1:1-13
29 1 Raja 5-6; 2 Tawarikh 2-3
30 1 Raja 7; 2 Tawarikh 4
31 1 Raja 8; 2 Tawarikh 5:1-7:10

Bacaan Alkitab Setahun - April 2012

1 Hakim 2-5
2 Hakim 6-8
3 Hakim 9
4 Hakim 10-12
5 Hakim 13-16
6 Hakim 17-19
7 Hakim 20-21
8 Rut
9 1 Samuel 1-3
10 1 Samuel 4-7
11 1 Samuel 8-10
12 1 Samuel 11-13
13 1 Samuel 14-15
14 1 Samuel 16-17
15 1 Samuel 18-19; Mazmur 59
16 1 Samuel 20-21; Mazmur 56, 34
17 1 Samuel 22-23; 1 Tawarikh 12:8-18; Mazmur 52, 54, 63, 142
18 1 Samuel 24; Mazmur 57; 1 Samuel 25
19 1 Samuel 26-29; 1 Tawarikh 12:1-7, 19-22
20 1 Samuel 30-31; 1 Tawarikh 10; 2 Samuel 1
21 2 Samuel 2-4
22 2 Samuel 5:1-6:11; 1 Tawarikh 11:1-9; 12:23-40; 13:1-14:17
23 2 Samuel 22; Mazmur 18
24 1 Tawarikh 15-16; 2 Samuel 6:12-23; Mazmur 96
25 Mazmur 105; 2 Samuel 7; 1 Tawarikh 17
26 2 Samuel 8-10; 1 Tawarikh 18-19; Mazmur 60
27 2 Samuel 11-12; 1 Tawarikh 20:1-3; Mazmur 51
28 2 Samuel 13-14
29 2 Samuel 15-17
30 2 Samuel 18-19; Mazmur 3

Bacaan Alkitab Setahun - Maret 2012

1 Bilangan 7
2 Bilangan 8-10
3 Bilangan 11-13
4 Bilangan 14-15
5 Bilangan 16-18
6 Bilangan 19-21
7 Bilangan 22-24
8 Bilangan 25-26
9 Bilangan 27-29
10 Bilangan 30-31
11 Bilangan 32-33
12 Bilangan 34-36
13 Ulangan 1-2
14 Ulangan 3-4
15 Ulangan 5-7
16 Ulangan 8-10
17 Ulangan 11-13
18 Ulangan 14-17
19 Ulangan 18-21
20 Ulangan 22-25
21 Ulangan 26-28
22 Ulangan 29:1-31:29
23 Ulangan 31:30-34:12
24 Yosua 1-4
25 Yosua 5-8
26 Yosua 9-11
27 Yosua 12-14
28 Yosua 15-17
29 Yosua 18-19
30 Yosua 20-22
31 Yosua 23-24; Hakim 1

Bacaan Alkitab Setahun - Februari 2012

1 Keluaran 1-4
2 Keluaran 5-8
3 Keluaran 9-11
4 Keluaran 12-13
5 Keluaran 14-15
6 Keluaran 16-18
7 Keluaran 19-21
8 Keluaran 22-24
9 Keluaran 25-27
10 Keluaran 28-29
11 Keluaran 30-31
12 Keluaran 32-34
13 Keluaran 35-36
14 Keluaran 37-38
15 Keluaran 39-40
16 Imamat 1:1-5:13
17 Imamat 5:14-7:38
18 Imamat 8-10
19 Imamat 11-12
20 Imamat 13-14
21 Imamat 15-17
22 Imamat 18-20
23 Imamat 21-23
24 Imamat 24-25
25 Imamat 26-27
26 Bilangan 1-2
27 Bilangan 3-4
28 Bilangan 5
29 Bilangan 6

Bacaan Alkitab Setahun - Januari 2012

1 Kejadian 1-3
2 Kejadian 4:1-6:8
3 Kejadian 6:9-9:29
4 Kejadian 10-11
5 Kejadian 12-14
6 Kejadian 15-17
7 Kejadian 18-19
8 Kejadian 20-22
9 Kejadian 23-24
10 Kejadian 25-26
11 Kejadian 27-28
12 Kejadian 29-30
13 Kejadian 31-32
14 Kejadian 33-35
15 Kejadian 36-37
16 Kejadian 38-40
17 Kejadian 41-42
18 Kejadian 43-45
19 Kejadian 46-47
20 Kejadian 48-50
21 Ayub 1-3
22 Ayub 4-7
23 Ayub 8-11
24 Ayub 12-15
25 Ayub 16-19
26 Ayub 20-22
27 Ayub 23-28
28 Ayub 29-31
29 Ayub 32-34
30 Ayub 35-37
31 Ayub 38-42

Kamis, 16 Februari 2012

BERTUMBUH DALAM MASALAH



Mengingat begitu kompleksnya permasalahan keluarga, maka saya akan mengangkat beberapa isu masalah keluarga yang menurut saya sedang dan akan menjadi masalah serius dalam keluarga. Ada beberapa pijakan pemikiran Alkitabiah yang harus disadari ketika berbicara tentang masalah keluarga :

·         Sebelum kejatuhan, manusia yang diciptakan menurut gambar dan rupa Tuhan dapat mencerminkan gambar Tuhan dengan benar. Itu adalah gambar Tuhan yang asli. Dengan masuknya dosa, manusia menyebrang dari apa yang disebut Anthony A. Hoekema sebagai “garis batas”, yaitu : hidup yang taat kepada Tuhan dan tanpa dosa, serta gambar Tuhan di dalam manusia menjadi rusak sebagai hasilnya. Calvin, Sang Reformator menggambarkan gambar ini sebagai yang cacat, lemah, rusak, tak berdaya, penuh sakit penyakit, dan tak berbentuk.

·         Manusia membutuhkan pemulihan sebagai pembawa gambar Tuhan. Mengapa? Karena kerusakan gambar itu telah mempengaruhi manusia dalam segala bidang hubungan : dalam responnya kepada Tuhan, kepada sesama manusia, dan terhadap lingkungan yang diberikan kepadanya untuk diawasi, termasuk keluarga/rumah tangga. Sejak manusia pertama jatuh dalam dosa, pengaruh dosa telah merembes ke dalam keluarga. Menarik untuk dicermati hukuman Tuhan kepada Adam dan Hawa (Kej 3:16-19). Hukuman itu sangat berkaitan dengan keluarga : Istri akan menanggung rasa sakit dalam melahirkan (dari kehamilan sampai mengasuh anak), terjadinya Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) karena suami berkuasa (Ibr. : Mashal) terhadap istri, susahnya mencari nafkah.

·         Pemulihan itu tidak dapat dilakukan manusia. Inisiatif pemulihan hubungan itu berasal dari Tuhan di dalam diri Tuhan Yesus Kristus. Di dalam diri Yesus Kristus, kita dapat melihat gambar Tuhan di dalam kesempurnaannya. Melalui iman dan komitmen kepada-Nya, kita menjadi ciptaan baru (2Kor 5:17). Dengan demikian, keluarga yang ingin mengembalikan gambar Tuhan ke bentuk aslinya, keluarga itu harus ada di dalam Kristus. Inilah dasar tema di atas.

·         Manusia diciptakan untuk member tanggapan kepada Tuhan. Manusia diciptakan untuk menjadi mitra perjanjian dengan Tuhan. Selain itu, manusia diciptakan untuk memberi tanggapan kepada orang lain sebagai partner (Kej 2:18,20). Namun tujuan ini telah rusak akibat dosa juga, termasuk keluarga. Keluarga tidak mampu lagi menjaga perjanjian dengan Tuhan. Peristiwa Kain dan Habel menjadi contoh untuk itu. 

·         Masalah yang muncul dalam keluarga sangat kompleks (multidimensi). Bisa komunikasi, keuangan, perselingkuhan, iri hati, keegoisan, dsb. Ketika masalah yang satu belum tuntas, muncul masalah yang baru. Apalagi kalau masalah-masalah yang muncul sangat berkaitan satu dengan yang lain. Lebih parahnya lagi, pelaku masalahnya sama (suami-istri-anak-mertua-menantu). Karena itu, sekalipun tahu banyak tentang solusi masalah keluarga, belum tentu dalam praktiknya bisa diterapkan.

·         Keluarga yang sudah diselamatkan dan menjadi keluarga Tuhan sedang dalam proses menuju keserupaan dengan Kristus. Keluarga umat percaya ibarat “keluarga para musafir kehidupan” yang sedang dalam perjalanan antara “kehidupan di sini (dunia)” dan “kehidupan di sana (surga)”. Paulus melukiskannya dengan amat indah : Bukan seolah-olah aku telah memperoleh hal ini atau telah sempurna, melainkan aku mengejarnya, kalau-kalau aku dapat juga menangkapnya, karena aku pun telah ditangkap oleh Kristus Yesus. … aku melupakan apa yang telah di belakangku dan mengarahkan diri kepada apa yang di hadapanku, dan berlari-lari kepada tujuan untuk memperoleh hadiah, yaitu panggilan sorgawi dari Tuhan dalam Kristus Yesus. (Flp 3:12-14). Konsekuensinya adalah bahwa keluarga yang sudah percaya kepada Kristus tidak otomatis bebas dari persoalan keluarga. Keluarga Kristen perlu berjuang dan bertanggung jawab untuk membawa keluarganya menuju koridor Tuhan.

Dari pijakan pemikiran di atas, harus diakui bahwa permasalahan keluarga amat kompleks. Tidak mungkin dalam waktu yang singkat ini kita dapat mendiskusikan setiap persoalan keluarga serta mencari solusinya. Karena itu, saya hanya akan mengangkat dua isu ini sebagai salah satu contoh masalah keluarga yang sedang “melanda” keluarga Kristen saat ini.

A.    Gaya Pengasuhan Yang Salah

Jack dan Judick Balswick mengutarakan bahwa ada empat gaya pengasuhan orangtua :

·         - Neglectful Parenting.
Gaya pengasuhan yang lemah dalam dukungan maupun pengawasan.
·         - Permissive Parenting.
Gaya pengasuhan yang kuat dalam dukungan, namun lemah dalam pengawasan.
·         - Authoritarian Parenting.
Gaya pengasuhan yang lemah dalam dukungan, namun kuat dalam pengawasan.
·         - Authoritative Parenting.
Gaya pengasuhan yang mengkombinasikan kualitas terbaik dari Permissive dan Authoritarian.

Ciri-Ciri Gaya Pengasuhan "Push Parenting"

Saya akan memberi contoh fenomena yang sedang “menjangkiti” orangtua, yaitu : Push Parenting (masuk dalam Authoritarian Parenting). Elisabeth Guthrie dan Kathy Matthews memberikan beberapa ciri orangtua yang masuk dalam kategori Push Parenting :

·         - Mengatur nyaris setiap menit dari hidup anaknya dengan kursus-kursus di luar jam sekolah.Dari hari Senin-Minggu, anak dipenuhi dengan aktifitas yang membuat anak hampIr tidak punya waktu bermain.
·         - Menuntut prestasi tinggi di sekolah dan di berbagai bidang lain, nyaris dengan segala cara (emosional, psikologis, fisik, dan dana). Hukuman dan omelan akan diterima anak bila prestasi di sekolah tidak di atas rata-rata.
·         - Menekan anak memilih jurusan sekolah/universitas, kursus, atau minat lebih untuk tujuan membuat Biodata/Riwayat Hidup (CV) yang mengesankan daripada untuk memenuhi rasa ingin tahu yang alamiah dan minat pribadi anak.
·    - Terlalu mencampuri persahabatan anak dengan teman-temannya.Bahkan orangtua akan mengintervensi gurunya di sekolah.
·          
Penyebab Gaya Pengasuhan "Push Parenting"

Biasanya penyebab dari gaya pengasuhan Push Parenting adalah :

·         Ketakutan dan kekuatiran yang berlebihan dari orangtua.
Orangtua sangat takut kalau anaknya nanti ketika dewasa tidak bisa berkompetisi dan gagal. Ketidaknyamanan inilah yang mendorong orangtua melakukan apa saja, bahkan menuntut anak mereka secara berlebihan untuk meng-antisipasi kegagalan di depan.

·         Kompensasi dari ketiadaan kesempatan di waktu lalu.
Menurut J. Drost, tidak masuk akal kalau beranggapan bahwa anak harus mencapai sesuatu karena orangtua sendiri tidak berhasil mencapainya di masa lalu. Inilah yang disebut oleh V.G. Beers sebagai : Tujuan Yang Tersembunyi.

·         Anggapan bahwa jumlah “Kesuksesan” itu terbatas.
Hal ini berangkat dari ide keterbatasan di sekolah unggulan, sehingga lahirlah obsesi terhadap Sekolah Unggulan. Kesuksesan disamaartikan dengan bisa diterima di sekolah-sekolah unggulan. Sekarang ini, obsesi untuk masuk sekolah unggulan sudah masuk pada tahap Play Group.

·         Terobsesi dengan Citra Ideal di Media.
Misalnya, acara TV Indonesian Idol, AFI, Mamamia, dsb. menjadi obsesi ba-nyak orangtua Indonesia. Semakin berprestasi seorang anak, seperti bintang-bintang di TV itu, maka anak itu akan semakin baik, dan itulah yang seharusnya menurut kebanyakan orangtua. Sebelum anak berprestasi seperti itu, orangtua sulit untuk merasa puas.

·         Anak adalah “Miniatur Diri” orangtua.
Tidak sedikit orangtua yang kecanduan terhadap keberhasilan anak-anak mereka. Mereka menkmati sekali “kebanggaan” sebagai orangtua ketika anak-anak mereka berprestasi, tenar, dan dipuji oleh banyak orang. Roy Meadow menyebut gejala ini dengan nama : ABPS (Achievement By Proxi Syndrome).

Akibat Gaya Pengasuhan "Push Parenting"

Akibat dari gaya pengasuhan Push Parenting pada anak :

·         Menciptakan anak yang rawan terhadap stress dan depresi.
Ada penyakit psikosomatis, misalnya : sakit perut, sakit kepala, gangguan tidur, dan makan. Menurut A.D. Lester, anak-anak yang mengalami krisis harus segera ditolong. Kalau tidak, aspek penyimpangan krisis yang tidak terselesaikan itu akan terus mengganggu seluruh kehidupannya sampai ia dewasa.


·         Mementingkan prestasi dan mengabaikan kepribadian.
Menurut Norman Wright dan Gary Oliver : Ketika prestasi menjadi titik focus sasaran pengasuhan anak, maka kecenderungan tujuan pembentukan karakter anak akan terabaikan. Banyak orangtua yang terlalu sibuk memacu prestasi anak sampai melupakan tanggung jawab untuk membentuk karakter mereka.

·         Kehilangan kebersamaan yang bermakna dengan keluarga.
Hasil penelitian di University of Michigan, pada tahun 1998 menunjukkan bahwa waktu bebas anak-anak di bawah usia 13 tahun berkurang seba-nyak 16% dalam satu generasi, yaitu dari 63 jam menjadi 51 jam seminggu.

Beberapa Saran Bagi Gaya Pengasuhan "Push Parenting"

Beberapa saran bagi orangtua tentang hal ini :

·         Belajar untuk mendengar dan memahami anak.
Jean Illsley dan Connie Dawson memberikan ide yang brilian : Ketika memutuskan sesuatu yang berkaitan dengan kepentingan anak, seringkali para orangtua tidak mau mengajak anak ikut berunding, karena mereka berpikir tindakan itu hanya akan menunjukkan kelemahan mereka sebagai orangtua yang seharusnya berwewenang penuh atas anak. Tetapi sebenarnya justru tidak demikian. Dengan melibatkan anak menunjukkan penghargaan dan kepedulian orangtua pada anak.

·         Terimalah anak dengan “apa adanya”, yaitu menerima anak sebagai karunia yang selama ini didambakan.
Steve & Sharon Biddulph :“Apa adanya” berarti mengakui bahwa anak tidak dapat menjadi sempurna dan bisa segalanya; kadangkala dia bisa berhasil, tetapi kadangkala dia juga bisa gagal.

·         Dunia anak sebagai dunia bermain.
Bermain adalah setiap kegiatan yang dilakukan untuk kesenangan yang ditimbulkannya, tanpa memperhitungkan hasil akhir. Banyak orangtua beranggapan bahwa anak hanya dapat belajar ketika mereka melakukan kegiatan belajar yang serius. Padahal para pakar telah meneliti bahwa bermain merupakan pengalaman belajar yang sangat berharga.

B.     Konsep Diri (KD) Yang Salah

Konsep Diri (KD) adalah gambaran yang diperoleh, dimiliki, dan dikembangkan seseorang mengenai dirinya, misalnya : bentuk fisiknya, prestasinya, keadaan keluarganya, prestigenya.
KD terbentuk dari keluarga, teman, masyarakat, sekolah, gereja, media massa, tempat pekerjaan.

KD sangat berkaitan dengan watak, yaitu : kebiasaan-kebiasaan dalam diri dan kehidupan kita, yang sangat tertanam dan berakar, sebagai hasil belajar dalam lingkungan dimana dibesarkan. Cara belajar itu adalah : Pengamatan, Peniruan dan Identifikasi, di samping mendengar dan menerima apa yang diajarkan oleh orang-orang yang berpengaruh bagi diri kita (Significant Others). Bisa ibu, ayah, nenek, kakak, atau … baby sitter, pembantu rumah tangga (PRT).

Sudah merupakan pandangan umum bahwa 80% dari watak kita merupakan hasil belajar yang kita alami selama 5 tahun pertama (masa balita). Jadi keluarga sangat mempengaruhi watak kita.

Beberapa contoh KD yang keliru :

·      - Terlalu menyanjung bahkan mengangungkan nilai kecantikan bagi anak wanita, atau ketampanan bagi anak pria. Misalnya, anak yang cantik akan disayang lebih daripada anak yang kurang cantik.
·        - Pengagungan materi atau kekayaan.
·        - Kebanggan secara berlebihan atau ketrampilan dalam bidang tertentu.
·        -  Terlalu menyanjung anak yang pintar di sekolah.

Beberapa saran bagi orangtua :

·         Mengajarkan prinsip Alkitab tentang KD yang benar, yaitu : diri kita sebagai pribadi yang unik, manusia berdosa, berharga di mata Allah, pribadi yang butuh kedewasaan, pribadi yang butuh bersosialisasi dengan orang lain, dsb.

·         Menegakkan dan melakukan nilai Kristiani dalam keluarga.Misalnya : Ibadah keluarga yang kontinu, saling menerima di antara anggota keluarga, dsb.

·        Menerima anak sebagaimana adanya. 

Dari pemaparan dua contoh di atas, akhirnya saya masuk dalam suatu kesimpulan bahwa keluarga yang mampu bertumbuh dari masalah yang dihadapi adalah

·         Keluarga yang menjadikan Tuhan sebagai pemandu keluarga.
·         Keluarga yang selalu taat kepada Tuhan dalam pengambilan keputusan.
·         Keluarga yang selalu setia pada tujuan pernikahan dan keluarga Kristen.
·         Keluarga yang selalu mencari dan merayakan kemuliaan Tuhan Tritunggal.