" Terpujilah TUHAN dan Bapa Tuhan kita Yesus Kristus yang dalam Kristus telah mengaruniakan kepada kita segala berkat rohani di dalam sorga" [ Efesus 1:3 ].
Banyak orang menyatakan bahwa TUHAN adalah Tritunggal, dalam arti tiga pribadi namun satu. Sekalipun kata Tritunggal tidak ada didalam Alkitab, tetapi pemahaman sedemikian sepertinya ada. Tetapi kami lebih senang menjelaskan Allah "Tritunggal", menjadi ALLAH ADALAH KELUARGA. Keluarga sejati adalah satu, sekalipun ada bapa, ibu dan anak-anak. Tuhan adalah keluarga sejati, oleh sebab itu Tuhan adalah satu. Sekalipun Tuhan termanifestasi didalam Bapa, Roh dan Anak, namun sesungguhnya Tuhan adalah satu pribadi.
Didalam Efesus 1, Tuhan sebagai Bapa terlihat berfungsi sebagai pemberi segala berkat rohani didalam sorga ( ayat 3 ), melakukan pemilihan atas kita sebelum dunia dijadikan ( ayat 4 ), menentukan kita untuk menjadi anak-anakNya ( ayat 5 ), melimpahkan kekayaan kasih karuniaNya dalam hal pengampunan dosa
kepada kita ( ayat 7-8 ), memiliki rahasia kehendakNya ( the secret of His will ) atau rencana ( ayat 9 ).
Sekalipun semuanya ini dijalankan didalam AnakNya serta melalui kuasa RohNya, tetapi kita lihat disini bahwa Bapa merupakan sumber segala sesuatu, Dia yang mempunyai rencana dan Penyebab utama segala sesuatu.
Bapa-lah yang menciptakan segala sesuatu melalui AnakNya. Perlu kita pahami dengan baik bahwa menciptakan bukanlah berarti mengadakan sesuatu dari tidak ada menjadi ada. Terjemahan harafiah dari Ibrani 11:3, adalah sesuatu yang terlihat berasal dari sesuatu yang tidak terlihat, artinya dunia jasmani (
terlihat ) berasal dari Tuhan ( tidak terlihat ).Maksudnya, ketika Tuhan menciptakan segala sesuatu, Ia menggunakan DiriNya sendiri sebagai "bahan dasarnya".Menciptakan bukanlah seperti seseorang yang membuat meja dari kayu sebagai bahan dasarnya. Ketika Bapa menciptakan segala sesuatu, Ia menggunakan DiriNya sendiri sebagai bahan dasarnya. Itu sebabnya kami lebih senang menggunakan istilah "memperluas diri ", dari pada istilah "menciptakan'. Jadi Bapa "memperluas DiriNya" didalam dan melalui ciptaanNya.
Demikianlah Tuhan sebagai Bapa, telah memperluas DiriNya. Ia adalah sumber segala sesuatu, penyebab segala sesuatu, dan yang memiliki rencana. Dialah yang menyebabkan adanya keluarga jasmani di muka bumi ini, untuk mengekspresikan keluarga sejati yang di sorga.
Kalau Bapa yang di sorga memiliki peran dan fungsi sedemikian, bukankah Ia juga menghendaki bapa di muka bumi ini juga memiliki peran dan fungsi yang kurang lebih sama dengan DiriNya. Dengan segala keterbatasan yang ada, diharapkan, bapa jasmani yang dimuka bumi ini dapat "memperluas dirinya" melalui dan didalam anak-anaknya. Bapa jasmani perlu menanamkan tujuan, misi, dan visinya kepada anak-anaknya, agar perjuangandan pelayanannya dapat diteruskan turun-temurun. Diharapkan bapa jasmani dapat menjadi "sumber" segala sesuatu bagi keluarganya, yaitu "sumber" urapan, pewahyuan, penghiburan, berkat jasmani dst. Diharapkan, bapa mempunyai rencana bagi keluarganya.
Tentu semua ini dilakukannya dengan bantuan seorang penolong yaitu seorang istri. Apabila terjadi sesuatu kepada keluarganya, maka wajarlah apabila bapa dimintai pertanggung-jawaban. Istri dan anak-anak tentu mempunyai kesalahan, tetapi yang bertanggung jawab adalah seorang bapa.
Tuhan Yesus memberkati.
Selasa, 13 Maret 2012
Renungan Harian ~ 18.03.2012. Mendidik Anak adalah Fungsi Bapak.
"Sebab Aku telah memilih dia, supaya diperintahkannya kepada anak-anaknya dan kepada keturunannya supaya tetap hidup menurut jalan yang ditunjukkan Tuhan, dengan melakukan kebenaran dan keadilan, dan supaya Tuhan memenuhi kepada Abraham apa yang dijanjikanNya kepadanya" [ Kejadian 18:19 ].
Latar belakang ayat ini adalah suatu kejadian dimana Tuhan memiliki rencana hendak memusnahkan Sodom dan Gomorah disebabkan dosa-dosa yang terjadi dikedua kota tersebut. Tetapi Tuhan berpikir apakah Ia akan menyembunyikan rencanaNya kepada Abraham, atau tidak.
Mengapa Tuhan berpikir demikian, adalah karena Ia telah memilih Abraham agar ia menjadi bangsa yang besar dan melalui dia, seluruh kaum di muka bumi mendapat berkat. Demikianlah kejadian yang menjadi latar-belakang ayat diatas.
Ayat diatas [ Kejadian 18:19] mengungkapkan bagaimana tindakan Abraham sebagai orang yang dipilih Tuhan, terhadap anak-anaknya serta keturunannya. Dengan tegas Abraham memerintahkan anak-anaknya serta keturunannya supaya tetap hidup menurut jalan yang ditunjukkan Tuhan. Tindakan Abraham ini sama seperti tindakan Yosua ketika ia berkata pada orang Israel bahwa, ".aku dan seisi rumahku, kami akan beribadah kepada Tuhan !" [ Yosua 24:15 ].
Didalam salah satu terjemahan harafiah dari ayat diatas, tertulis demikian, "for I have known him, that he commandeth his children." Dari terjemahan harafiah ini ( yang lebih tepat ), kita dapat menarik kesimpulan ( dari sisi manusia ) bahwa salah satu alasan mengapa Tuhan memilih Abraham, adalah karena Ia telah mengetahui bahwa Abraham akan memerintahkan anak-anaknya supaya tetap hidup menurut jalan yang ditunjukkan Tuhan. Kalau memang benar demikian, betapa pentingnya bagi seorang bapa untuk memerintahkan anak-anaknya agar mengikuti jalan yang ditunjukkan Tuhan. Didalam suatu keluarga, bapa mempunyai tanggung jawab menjalankan otoritas yang diberikan Tuhan padanya, yaitu dalam hal memerintahkan anak-anaknya agar mengikut Tuhan. Disini kita lihat fungsi bapa didalam keluarga sebagai seorang pendidik, tentunya dengan pertolongan seorang istri.
Tetapi kita harus jelas melihat bahwa tanggung jawab mendidik ( memerintahkan ) anak-anak, terletak dipundak seorang bapa. Tentu saja istri sebagai seorang penolong, akan membantu, demikian juga guru-guru disekolah, serta pelayan-pelayan Tuhan didalam gereja ikut serta mendidik anak-anak. Tetapi tanggung jawab itu ada pada sang bapa. Apabila anak-anak memberontak dan tidak menurut jalan yang ditunjukkan Tuhan, maka pertanggung-jawaban terakhir harus didapat dari seorang bapa.
Apabila fungsi bapa sebagai pendidik dijalankan dengan baik, maka ada tindakan Tuhan yang indah ( sesuai ayat diatas ), yaitu Tuhan akan menepati janjiNya kepada seorang bapa. Tentu saja janji Tuhan semuanya baik dan indah. Amin.
Tuhan Yesus memberkati.
Latar belakang ayat ini adalah suatu kejadian dimana Tuhan memiliki rencana hendak memusnahkan Sodom dan Gomorah disebabkan dosa-dosa yang terjadi dikedua kota tersebut. Tetapi Tuhan berpikir apakah Ia akan menyembunyikan rencanaNya kepada Abraham, atau tidak.
Mengapa Tuhan berpikir demikian, adalah karena Ia telah memilih Abraham agar ia menjadi bangsa yang besar dan melalui dia, seluruh kaum di muka bumi mendapat berkat. Demikianlah kejadian yang menjadi latar-belakang ayat diatas.
Ayat diatas [ Kejadian 18:19] mengungkapkan bagaimana tindakan Abraham sebagai orang yang dipilih Tuhan, terhadap anak-anaknya serta keturunannya. Dengan tegas Abraham memerintahkan anak-anaknya serta keturunannya supaya tetap hidup menurut jalan yang ditunjukkan Tuhan. Tindakan Abraham ini sama seperti tindakan Yosua ketika ia berkata pada orang Israel bahwa, ".aku dan seisi rumahku, kami akan beribadah kepada Tuhan !" [ Yosua 24:15 ].
Didalam salah satu terjemahan harafiah dari ayat diatas, tertulis demikian, "for I have known him, that he commandeth his children." Dari terjemahan harafiah ini ( yang lebih tepat ), kita dapat menarik kesimpulan ( dari sisi manusia ) bahwa salah satu alasan mengapa Tuhan memilih Abraham, adalah karena Ia telah mengetahui bahwa Abraham akan memerintahkan anak-anaknya supaya tetap hidup menurut jalan yang ditunjukkan Tuhan. Kalau memang benar demikian, betapa pentingnya bagi seorang bapa untuk memerintahkan anak-anaknya agar mengikuti jalan yang ditunjukkan Tuhan. Didalam suatu keluarga, bapa mempunyai tanggung jawab menjalankan otoritas yang diberikan Tuhan padanya, yaitu dalam hal memerintahkan anak-anaknya agar mengikut Tuhan. Disini kita lihat fungsi bapa didalam keluarga sebagai seorang pendidik, tentunya dengan pertolongan seorang istri.
Tetapi kita harus jelas melihat bahwa tanggung jawab mendidik ( memerintahkan ) anak-anak, terletak dipundak seorang bapa. Tentu saja istri sebagai seorang penolong, akan membantu, demikian juga guru-guru disekolah, serta pelayan-pelayan Tuhan didalam gereja ikut serta mendidik anak-anak. Tetapi tanggung jawab itu ada pada sang bapa. Apabila anak-anak memberontak dan tidak menurut jalan yang ditunjukkan Tuhan, maka pertanggung-jawaban terakhir harus didapat dari seorang bapa.
Apabila fungsi bapa sebagai pendidik dijalankan dengan baik, maka ada tindakan Tuhan yang indah ( sesuai ayat diatas ), yaitu Tuhan akan menepati janjiNya kepada seorang bapa. Tentu saja janji Tuhan semuanya baik dan indah. Amin.
Tuhan Yesus memberkati.
Renungan Harian ~ 17.03.2012. Keterbukaan Suami - Istri.
"Mereka keduanya telanjang, manusia dan isterinya itu, tetapi mereka tidak merasa malu" [ Kejadian 2:25 ].
Alkitab menceritakan bahwa manusia dan istrinya itu dalam kondisi telanjang. Ketelanjangan didalam Alkitab selalu menunjukkan sesuatu yang memalukan dan suatu kondisi seseorang yang menyedihkan. Namun kita lihat disini bahwa manusia dan istrinya itu tidak merasamalu dengan kondisi mereka.
Mengapa ketelanjangan manusia dan istrinya itu tidak menimbulkan rasa malu diantara keduanya ?
Hal ini disebabkan mereka "diselimuti" oleh kemuliaan Allah. Kemuliaan Allah telah membuat mereka saling
memandang dengan "mata" yang berbeda dan mereka tidak tahu bahwa mereka telanjang. Mereka dapat menerima keadaan diri mereka sendiri dan juga keadaan pasangan mereka.
Ketelanjangan mereka malah merupakan sesuatu hal yang positif dimana ini berarti diantara mereka ada keterbukaan dan kesatuan, yang memang mutlak diperlukan dalam hubungan suami-istri.
Tetapi setelah dosa masuk, maka manusia kehilangan kemuliaan TUHAN [ Roma 3:23 ]. Hilangnya kemuliaan TUHAN ini membuat manusia memiliki mata jasmani yangmemandang ketelanjangan sebagai sesuatu yang memalukan, dan ketelanjangan memang merupakan sesuatu yang memalukan. Manusia telah sadar dan tahu bahwa dirinya telanjang. Selama manusia diselimuti kemuliaan TUHAN, ia tidak tahu
bahwa dirinya telanjang. Kemuliaan TUHAN membuat manusia hanya memandang TUHAN dan tidak memandang dirinya sendiri.
Sekarang, bagaimana hubungan suami-istri ini setelah mereka melihat ketelanjangan mereka ? Alkitab menyatakan bahwa, ".mereka menyemat daun pohon ara danmembuat cawat". Manusia dan istrinya itu sekarang sibuk menutupi rasa malu yang diakibatkan kondisi mereka. Tidak ada lagi keterbukaan dan kesatuan diantara mereka. Tidak ada lagi saling menerima keadaan masing-masing. Tidak ada lagi keterbukaan diantara mereka. Masing-masing telah menjadi egois dan memikirkan diri mereka sendiri. Dosa dan hilangnya kemuliaan TUHAN telah membuat hubungan suami-istri rusak berat.
Pelajaran apa yang dapat kita ambil dari ayat diatas ?
Pertama, "ketelanjangan yang diselimuti kemuliaan TUHAN" merupakan suatu hal yang mutlak didalam hubungan suami-istri. Adanya keterbukaan total dan saling menerima diantara suami istri, merupakan syarat mutlak menuju kesatuan yang direncanakan Tuhan. Suami dan istri tidak memiliki "simpanan" apapun yang tidak diketahui pasangannya.
Kedua, dosa dan hilangnya kemuliaan Tuhan perlu diselesaikan dengan tuntas diantara suami-istri. Perlu adanya saling mengaku dosa dan saling mengampuni diantara suami-istri. Suami-istri harus belajar bagaimana membiarkan TUHAN bekerja menempa kemuliaanNya sedikit demi sedikit didalam kehidupan mereka.
Suami-istri perlu belajar memandang TUHAN saja didalam kehidupan rumah tangga mereka. Melalui
ketekunan suami-istri, maka keterbukaan hubungan itu akan tercapai. Amin.
Tuhan Yesus memberkati.
Alkitab menceritakan bahwa manusia dan istrinya itu dalam kondisi telanjang. Ketelanjangan didalam Alkitab selalu menunjukkan sesuatu yang memalukan dan suatu kondisi seseorang yang menyedihkan. Namun kita lihat disini bahwa manusia dan istrinya itu tidak merasamalu dengan kondisi mereka.
Mengapa ketelanjangan manusia dan istrinya itu tidak menimbulkan rasa malu diantara keduanya ?
Hal ini disebabkan mereka "diselimuti" oleh kemuliaan Allah. Kemuliaan Allah telah membuat mereka saling
memandang dengan "mata" yang berbeda dan mereka tidak tahu bahwa mereka telanjang. Mereka dapat menerima keadaan diri mereka sendiri dan juga keadaan pasangan mereka.
Ketelanjangan mereka malah merupakan sesuatu hal yang positif dimana ini berarti diantara mereka ada keterbukaan dan kesatuan, yang memang mutlak diperlukan dalam hubungan suami-istri.
Tetapi setelah dosa masuk, maka manusia kehilangan kemuliaan TUHAN [ Roma 3:23 ]. Hilangnya kemuliaan TUHAN ini membuat manusia memiliki mata jasmani yangmemandang ketelanjangan sebagai sesuatu yang memalukan, dan ketelanjangan memang merupakan sesuatu yang memalukan. Manusia telah sadar dan tahu bahwa dirinya telanjang. Selama manusia diselimuti kemuliaan TUHAN, ia tidak tahu
bahwa dirinya telanjang. Kemuliaan TUHAN membuat manusia hanya memandang TUHAN dan tidak memandang dirinya sendiri.
Sekarang, bagaimana hubungan suami-istri ini setelah mereka melihat ketelanjangan mereka ? Alkitab menyatakan bahwa, ".mereka menyemat daun pohon ara danmembuat cawat". Manusia dan istrinya itu sekarang sibuk menutupi rasa malu yang diakibatkan kondisi mereka. Tidak ada lagi keterbukaan dan kesatuan diantara mereka. Tidak ada lagi saling menerima keadaan masing-masing. Tidak ada lagi keterbukaan diantara mereka. Masing-masing telah menjadi egois dan memikirkan diri mereka sendiri. Dosa dan hilangnya kemuliaan TUHAN telah membuat hubungan suami-istri rusak berat.
Pelajaran apa yang dapat kita ambil dari ayat diatas ?
Pertama, "ketelanjangan yang diselimuti kemuliaan TUHAN" merupakan suatu hal yang mutlak didalam hubungan suami-istri. Adanya keterbukaan total dan saling menerima diantara suami istri, merupakan syarat mutlak menuju kesatuan yang direncanakan Tuhan. Suami dan istri tidak memiliki "simpanan" apapun yang tidak diketahui pasangannya.
Kedua, dosa dan hilangnya kemuliaan Tuhan perlu diselesaikan dengan tuntas diantara suami-istri. Perlu adanya saling mengaku dosa dan saling mengampuni diantara suami-istri. Suami-istri harus belajar bagaimana membiarkan TUHAN bekerja menempa kemuliaanNya sedikit demi sedikit didalam kehidupan mereka.
Suami-istri perlu belajar memandang TUHAN saja didalam kehidupan rumah tangga mereka. Melalui
ketekunan suami-istri, maka keterbukaan hubungan itu akan tercapai. Amin.
Tuhan Yesus memberkati.
Renungan Harian ~ 16.03.2012. Peran Suami Dalam Pernikahan dan Proses Penyatuan.
"Sebab itu seorang laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan istrinya, sehingga keduanya menjadi satu daging" [ Kej. 2:24 ].
Ayat diatas mengungkapkan apa yang disebut hukum universal pernikahan. Ada dua poin didalam hukum universal ini.
Pertama, tanggung jawab suatu pernikahan ada diatas pundak laki-laki. Mengapa ?
Karena tertulis. "seorang laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya", ini berarti inisiatif dan tindakan untuk menikah dijalankan oleh seorang laki-laki. Ini juga berarti bahwa segala hal yang terjadi didalam suatu pernikahan merupakan tanggung jawab laki-laki. Itulah sebabnya mengapa laki-laki [ suami ] disebut kepala rumah tangga. Kepala rumah tangga tentu bertanggung jawab atas segala sesuatu yang terjadi didalam rumah tangganya.Kesalahan-kesalahan bisa saja dilakukan oleh seorang istri atau anak-anak didalam keluarga, tetapi tanggung jawab tetap berada dipundak suami sebagai kepala. Itu sebabnya Allah memanggil manusia ( Adam ) dan bukan Hawa, ketika keluarga pertama dimuka bumi ini jatuh dalam dosa [ Kejadian 3:9 ].
Kedua, tanggung jawab untuk memelihara dan mengusahakan kesatuan ada di pundak laki-laki. Hal ini ditegaskan oleh ayat diatas, ".dan bersatu dengan istrinya". Disini juga terlihat bahwa pernikahan adalah merupakan suatu proses penyatuan antara suami dengan istrinya, tetapi tanggung jawabnya berada dipundak sang suami.
Bagaimana seorang suami dapat bersatu dengan istrinya ? Sesuai ayat diatas yaitu, ".meninggalkan ayahnya dan ibunya". Artinya, sejak seorang laki-laki menikah, maka ia telah meninggalkan unit keluarga yang dibangun bapanya karena ia telah membangun suatu unit keluarga yang baru. Ia telah menjadi kepala dari
suatu unit keluarga yang baru. Ia tidak lagi berada dibawah ke-kepala-an bapanya. Ini tidak berarti ia tidak perlu lagi mendengarkan nasihat bapanya,tetapi sekarang ia telah menjadi seorang kepala rumah tangga yang "independent" dimana ia harus menentukan sendiri keputusan-keputusan bagi keluarganya. Meninggalkan ayahnya, juga berarti ia harus mengutamakan kesatuan dengan istrinya, diatas segala hal yang berkaitan dengan ayahnya. Bukan berarti ia tidak menghormati ayahnya lagi, tetapi ia harus terfokus pada usaha bagaimana ia dapat bersatu dengan istrinya.
Selanjutnya, seorang laki-laki juga harus meninggalkan ibunya, agar ia dapat bersatu dengan istrinya. Hal ini berarti bahwa perempuan nomor satu bagi seorang laki-laki adalah istrinya, dan bukan ibunya. Bagi seorang laki-laki yang tidak terlalu dekat dengan ibunya, mungkin hal ini tidak menjadi masalah. Tetapi bagi seorang "anak mami", ini merupakan masalah besar.Proses penyatuan seorang laki-laki dengan istrinya terhambat karena adanya "orang ketiga",yaitu ibunya sendiri. Apalagi jika ibunya adalah seorang yang suka mencampuri dan mengatur rumah tangga anaknya, maka kesatuan suami-istri tidak mungkin tercapai. Jadi, seorang laki-laki harus mengambil keputusan tegas untuk me-nomor satu-kan istrinya demi proses penyatuan, dan tidak me-nomor satu-kan ibunya.
Apabila kata "meninggalkan" ini kita perluas artinya, maka seorang laki-laki harus meninggalkan segala sesuatu, yang menghambat proses penyatuan denganistrinya. Artinya ia harus mengutamakan penyatuan dengan istrinya, daripada apa yang disebut pelayanan, pekerjaan, hobby, dst.
Memang ada harga yang harus dibayar untuk bersatu dengan istri kita. Tetapi suami yang memperoleh hikmat Tuhan, akan mengetahui kehendakNya serta menentukanprioritas dengan benar.
Tuhan Yesus memberkati.
Ayat diatas mengungkapkan apa yang disebut hukum universal pernikahan. Ada dua poin didalam hukum universal ini.
Pertama, tanggung jawab suatu pernikahan ada diatas pundak laki-laki. Mengapa ?
Karena tertulis. "seorang laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya", ini berarti inisiatif dan tindakan untuk menikah dijalankan oleh seorang laki-laki. Ini juga berarti bahwa segala hal yang terjadi didalam suatu pernikahan merupakan tanggung jawab laki-laki. Itulah sebabnya mengapa laki-laki [ suami ] disebut kepala rumah tangga. Kepala rumah tangga tentu bertanggung jawab atas segala sesuatu yang terjadi didalam rumah tangganya.Kesalahan-kesalahan bisa saja dilakukan oleh seorang istri atau anak-anak didalam keluarga, tetapi tanggung jawab tetap berada dipundak suami sebagai kepala. Itu sebabnya Allah memanggil manusia ( Adam ) dan bukan Hawa, ketika keluarga pertama dimuka bumi ini jatuh dalam dosa [ Kejadian 3:9 ].
Kedua, tanggung jawab untuk memelihara dan mengusahakan kesatuan ada di pundak laki-laki. Hal ini ditegaskan oleh ayat diatas, ".dan bersatu dengan istrinya". Disini juga terlihat bahwa pernikahan adalah merupakan suatu proses penyatuan antara suami dengan istrinya, tetapi tanggung jawabnya berada dipundak sang suami.
Bagaimana seorang suami dapat bersatu dengan istrinya ? Sesuai ayat diatas yaitu, ".meninggalkan ayahnya dan ibunya". Artinya, sejak seorang laki-laki menikah, maka ia telah meninggalkan unit keluarga yang dibangun bapanya karena ia telah membangun suatu unit keluarga yang baru. Ia telah menjadi kepala dari
suatu unit keluarga yang baru. Ia tidak lagi berada dibawah ke-kepala-an bapanya. Ini tidak berarti ia tidak perlu lagi mendengarkan nasihat bapanya,tetapi sekarang ia telah menjadi seorang kepala rumah tangga yang "independent" dimana ia harus menentukan sendiri keputusan-keputusan bagi keluarganya. Meninggalkan ayahnya, juga berarti ia harus mengutamakan kesatuan dengan istrinya, diatas segala hal yang berkaitan dengan ayahnya. Bukan berarti ia tidak menghormati ayahnya lagi, tetapi ia harus terfokus pada usaha bagaimana ia dapat bersatu dengan istrinya.
Selanjutnya, seorang laki-laki juga harus meninggalkan ibunya, agar ia dapat bersatu dengan istrinya. Hal ini berarti bahwa perempuan nomor satu bagi seorang laki-laki adalah istrinya, dan bukan ibunya. Bagi seorang laki-laki yang tidak terlalu dekat dengan ibunya, mungkin hal ini tidak menjadi masalah. Tetapi bagi seorang "anak mami", ini merupakan masalah besar.Proses penyatuan seorang laki-laki dengan istrinya terhambat karena adanya "orang ketiga",yaitu ibunya sendiri. Apalagi jika ibunya adalah seorang yang suka mencampuri dan mengatur rumah tangga anaknya, maka kesatuan suami-istri tidak mungkin tercapai. Jadi, seorang laki-laki harus mengambil keputusan tegas untuk me-nomor satu-kan istrinya demi proses penyatuan, dan tidak me-nomor satu-kan ibunya.
Apabila kata "meninggalkan" ini kita perluas artinya, maka seorang laki-laki harus meninggalkan segala sesuatu, yang menghambat proses penyatuan denganistrinya. Artinya ia harus mengutamakan penyatuan dengan istrinya, daripada apa yang disebut pelayanan, pekerjaan, hobby, dst.
Memang ada harga yang harus dibayar untuk bersatu dengan istri kita. Tetapi suami yang memperoleh hikmat Tuhan, akan mengetahui kehendakNya serta menentukanprioritas dengan benar.
Tuhan Yesus memberkati.
Renungan Harian ~ 15.03.2012. Istri, seorang Penolong yang SEPADAN.
".Aku akan menjadikan penolong baginya, yang sepadan dengan dia." [ Kejadian
2:18].
Janji Firman Tuhan ini tidak hanya diuntukkan bagi Adam saja. Artinya, Tuhan tidak hanya menjadikan seorang penolong bagi Adam, tetapi juga bagi setiap laki-laki yang melayaniNya, sebagaimana Adam melayaniNya. Kecuali bagi laki-laki yang mendapat karunia tidak menikah. Jadi, janji Tuhan ini perlu
direnungkan oleh setiap laki-laki yang melayaniNya, baik ia sudah menikah maupun belum.
Seringkali seorang suami yang melayani Tuhan, memandang dan menganggap istrinya bukan sebagai penolong yang sepadan bagi dirinya. Sering terjadi bahwa seorang suami menganggap istrinya sebagai "penghambat" pelayanannya. Suami yang seperti ini telah kehilangan janji Tuhan yang sangat indah didalam hidupnya. Bukan
karena Tuhan mengingkari janjiNya [dalam ayat diatas ] melainkan karena sang suami tidak meresponi janji Tuhan dengan iman.
Suami yang seperti ini belum memahami respon Adam ketika Tuhan membawa Hawa kepadanya yaitu, "Inilah dia, tulang dari tulangku dan daging dari dagingku". Adam tidak menganggap Hawa sebagai orang asing atau penghambat dalam kehidupan dan pelayanannya. Adam menyadari penuh bahwa Hawa adalah sebagian dari dirinya. Adam merasa dirinya "utuh" atau "lengkap" ketika Tuhan memberikan Hawa kepadanya.
Tentu saja akibat manusia telah jatuh dalam dosa, maka seorang suami tidak dapat langsung memberi respon seperti Adam. Manusia telah kehilangan kemuliaan Tuhan, dan hal ini membuat persekutuan antara suami dan istri mengalami hambatan. Sebab hidup sang suami berpusat pada dirinya sendiri, demikian juga dengan istrinya. Bila dua orang memiliki jenis hidup yang berpusat pada diri sendiri, maka tidaklah mudah bagi
mereka untuk berfellowship, bersehati dan saling berbagi. Tetapi seorang suami yang telah dijamah Tuhan, perlu belajar percaya akan janji Tuhan bahwa, "Aku akan menjadikan penolong baginya, yang sepadan
dengan dia". Bila seorang ruami dengan tekun dan setia memegang janji Tuhan ini, maka ia akan melihat istrinya semakin hari semakin menjadi penolong yang sepadan dengan dia. Suami yang sedemikian ini akan sangat berbahagia. Tidak ada terlintas sedikitpun pikiran bahwa istrinya adalah seorang penghambat suami,
atau berpikir bahwa ia telah salah memilih teman hidup. Bahkan sekarang, ia dapat berkata seperti Adam, "Inilah dia, tulang dari tulangku, dan daging dari dagingku".
Jadi, dalam satu pengertian tertentu, semuanya tergantung pada iman sang suami; apakah ia akan mendapat penolong yang sepadan dengannya atau tidak.Tentu saja ada bagian yang harus dilakukan oleh seorang istri agar ia dapat menjadi penolong yang sepadan bagi suaminya, tetapi yang kita bicarakan diatas adalah dari sudut pandang suami. Semoga semua suami yang melayani Tuhan, memperoleh penolong yang sepadan dengannya. Amin.
Tuhan Yesus memberkati.
2:18].
Janji Firman Tuhan ini tidak hanya diuntukkan bagi Adam saja. Artinya, Tuhan tidak hanya menjadikan seorang penolong bagi Adam, tetapi juga bagi setiap laki-laki yang melayaniNya, sebagaimana Adam melayaniNya. Kecuali bagi laki-laki yang mendapat karunia tidak menikah. Jadi, janji Tuhan ini perlu
direnungkan oleh setiap laki-laki yang melayaniNya, baik ia sudah menikah maupun belum.
Seringkali seorang suami yang melayani Tuhan, memandang dan menganggap istrinya bukan sebagai penolong yang sepadan bagi dirinya. Sering terjadi bahwa seorang suami menganggap istrinya sebagai "penghambat" pelayanannya. Suami yang seperti ini telah kehilangan janji Tuhan yang sangat indah didalam hidupnya. Bukan
karena Tuhan mengingkari janjiNya [dalam ayat diatas ] melainkan karena sang suami tidak meresponi janji Tuhan dengan iman.
Suami yang seperti ini belum memahami respon Adam ketika Tuhan membawa Hawa kepadanya yaitu, "Inilah dia, tulang dari tulangku dan daging dari dagingku". Adam tidak menganggap Hawa sebagai orang asing atau penghambat dalam kehidupan dan pelayanannya. Adam menyadari penuh bahwa Hawa adalah sebagian dari dirinya. Adam merasa dirinya "utuh" atau "lengkap" ketika Tuhan memberikan Hawa kepadanya.
Tentu saja akibat manusia telah jatuh dalam dosa, maka seorang suami tidak dapat langsung memberi respon seperti Adam. Manusia telah kehilangan kemuliaan Tuhan, dan hal ini membuat persekutuan antara suami dan istri mengalami hambatan. Sebab hidup sang suami berpusat pada dirinya sendiri, demikian juga dengan istrinya. Bila dua orang memiliki jenis hidup yang berpusat pada diri sendiri, maka tidaklah mudah bagi
mereka untuk berfellowship, bersehati dan saling berbagi. Tetapi seorang suami yang telah dijamah Tuhan, perlu belajar percaya akan janji Tuhan bahwa, "Aku akan menjadikan penolong baginya, yang sepadan
dengan dia". Bila seorang ruami dengan tekun dan setia memegang janji Tuhan ini, maka ia akan melihat istrinya semakin hari semakin menjadi penolong yang sepadan dengan dia. Suami yang sedemikian ini akan sangat berbahagia. Tidak ada terlintas sedikitpun pikiran bahwa istrinya adalah seorang penghambat suami,
atau berpikir bahwa ia telah salah memilih teman hidup. Bahkan sekarang, ia dapat berkata seperti Adam, "Inilah dia, tulang dari tulangku, dan daging dari dagingku".
Jadi, dalam satu pengertian tertentu, semuanya tergantung pada iman sang suami; apakah ia akan mendapat penolong yang sepadan dengannya atau tidak.Tentu saja ada bagian yang harus dilakukan oleh seorang istri agar ia dapat menjadi penolong yang sepadan bagi suaminya, tetapi yang kita bicarakan diatas adalah dari sudut pandang suami. Semoga semua suami yang melayani Tuhan, memperoleh penolong yang sepadan dengannya. Amin.
Tuhan Yesus memberkati.
Renungan Harian ~ 14.03.2012. Tuhanlah yang MEMBANGUN KELUARGA!
" TUHAN berfirman :' Tidak baik, kalau manusia itu seorang diri saja. Aku
akan menjadikan penolong baginya, yang sepadan dengan dia." [ Kejadian 2:18 ].
Keluarga-keluarga yang ada dimuka bumi ini, adalah merupakan rancangan TUHAN sendiri. Dialah yang berinisiatif menciptakan keluarga di muka bumi ini. Ketika Tuhan membentuk manusia dari debu tanah serta menghembuskan nafas hidup kedalam hidungnya, dan menempatkannya dalam taman Eden, maka Tuhan
sendirilah yang berfirman, ".tidak baik, kalau manusia itu seorang diri saja.".
Ia sendiri yang mengambil " salah satu rusuk " dari manusia itu, dan dari "
rusuk " itu dibangunNyalah seorang perempuan. Pengertian " rusuk " disini
adalah ruang [chamber]. Jadi ketika Tuhan mengambil "ruang" dari manusia
itu, maka manusia itu menjadi "tidak lengkap" lagi tanpa seorang perempuan.
Tanpa seorang perempuan, manusia itu tidak dapat memultiplikasikan dan
memperluas dirinya melalui anak-anak ; karena hanya perempuan [ womb-man =
manusia rahim ] yang dapat memberikan anak-anak kepadanya. Tanpa seorang
perempuan, maka manusia itu kehilangan "sebagian dirinya", yang membuatnya
"tidak utuh". Tetapi semua ini adalah rancangan sang Pencipta.
Demikianlah Tuhan menghadirkan seorang perempuan bagi manusia itu sebagai
penolong yang sepadan dengannya. Maka terciptalah apa yang disebut keluarga.
Kejadian 2 merupakan kisah bagaimana Tuhan sendiri membangun
keluarga pertama di muka bumi ini.
Setelah manusia jatuh dalam dosa, kita lihat ada banyak orang mencoba membangun
keluarga. Namun tidak jarang keluarga-keluarga ini hancur berantakan dan
tercerai-berai setelah sejangka waktu berjalan. Atau, kalaupun tidak bercerai,
kehidupan yang ada di dalamnya sudah tidak seperti keluarga lagi.
Masing-masing anggota keluarga sudah berjalan sendiri-sendiri. Suami, istri dan
anak-anak mempunyai tujuan hidup masing-masing. Walaupun mereka masih hidup
satu rumah, tidak ada lagi kesatuan seperti yang direncanakan TUHAN semula bagi
suatu keluarga.
Ini bukan saja terjadi pada keluarga-keluarga pada umumnya, namun seringkali terjadi juga dalam
keluarga-keluarga yang menyebut dirinya Kristen. Mengapa ? Supaya genaplah firman Tuhan, "Jikalau bukan Tuhan yang membangun rumah, sia-sialah usaha orang membangunnya.". Jika bukan Tuhan yang membangun
keluarga, sia-sialah usaha orang membangunnya, baik itu orang-orang pada
umumnya maupun orang Kristen.
Sahabat, keluarga adalah rancangan dan ciptaan TUHAN sendiri. Tak ada seorangpun
yang dapat membangun keluarga. Marilah kita berserah dan mengizinkan Dia
membangun keluarga kita sendiri. Amin.
akan menjadikan penolong baginya, yang sepadan dengan dia." [ Kejadian 2:18 ].
Keluarga-keluarga yang ada dimuka bumi ini, adalah merupakan rancangan TUHAN sendiri. Dialah yang berinisiatif menciptakan keluarga di muka bumi ini. Ketika Tuhan membentuk manusia dari debu tanah serta menghembuskan nafas hidup kedalam hidungnya, dan menempatkannya dalam taman Eden, maka Tuhan
sendirilah yang berfirman, ".tidak baik, kalau manusia itu seorang diri saja.".
Ia sendiri yang mengambil " salah satu rusuk " dari manusia itu, dan dari "
rusuk " itu dibangunNyalah seorang perempuan. Pengertian " rusuk " disini
adalah ruang [chamber]. Jadi ketika Tuhan mengambil "ruang" dari manusia
itu, maka manusia itu menjadi "tidak lengkap" lagi tanpa seorang perempuan.
Tanpa seorang perempuan, manusia itu tidak dapat memultiplikasikan dan
memperluas dirinya melalui anak-anak ; karena hanya perempuan [ womb-man =
manusia rahim ] yang dapat memberikan anak-anak kepadanya. Tanpa seorang
perempuan, maka manusia itu kehilangan "sebagian dirinya", yang membuatnya
"tidak utuh". Tetapi semua ini adalah rancangan sang Pencipta.
Demikianlah Tuhan menghadirkan seorang perempuan bagi manusia itu sebagai
penolong yang sepadan dengannya. Maka terciptalah apa yang disebut keluarga.
Kejadian 2 merupakan kisah bagaimana Tuhan sendiri membangun
keluarga pertama di muka bumi ini.
Setelah manusia jatuh dalam dosa, kita lihat ada banyak orang mencoba membangun
keluarga. Namun tidak jarang keluarga-keluarga ini hancur berantakan dan
tercerai-berai setelah sejangka waktu berjalan. Atau, kalaupun tidak bercerai,
kehidupan yang ada di dalamnya sudah tidak seperti keluarga lagi.
Masing-masing anggota keluarga sudah berjalan sendiri-sendiri. Suami, istri dan
anak-anak mempunyai tujuan hidup masing-masing. Walaupun mereka masih hidup
satu rumah, tidak ada lagi kesatuan seperti yang direncanakan TUHAN semula bagi
suatu keluarga.
Ini bukan saja terjadi pada keluarga-keluarga pada umumnya, namun seringkali terjadi juga dalam
keluarga-keluarga yang menyebut dirinya Kristen. Mengapa ? Supaya genaplah firman Tuhan, "Jikalau bukan Tuhan yang membangun rumah, sia-sialah usaha orang membangunnya.". Jika bukan Tuhan yang membangun
keluarga, sia-sialah usaha orang membangunnya, baik itu orang-orang pada
umumnya maupun orang Kristen.
Sahabat, keluarga adalah rancangan dan ciptaan TUHAN sendiri. Tak ada seorangpun
yang dapat membangun keluarga. Marilah kita berserah dan mengizinkan Dia
membangun keluarga kita sendiri. Amin.
Keadaan Keluarga Kristen Saat Ini.
Suatu hari dalam perbincangan sebuah keluarga dosen yang mapan. “Aku tidak mau tahu, penghasilanmu sebagai dosen tidak cukup bagi keluarga kita ini. Rumah kita masih harus dibangun jadi tiga lantai, agar kita bisa buka usaha tempat kost untuk hari tua kita. Pa, aku juga ingin kita beli mobil baru….mobil kita itu sudah terlalu tua…malu aku sama teman-temanku….pokoknya aku engga mau tahu….mulai bulan depan kau harus bisa membawa lebih banyak uang ke rumah…aku juga perlu sosialisasi dengan teman ibu-ibu yang lain…kita mau jalan-jalan dan belanja ke luar negeri…pokoknya awas lho, Pa….kalau kau engga bisa bawa uang lebih…aku engga mau melayanimu…Jangan terlalu idealis jadi orang, keluarga ga makan…gara-gara kamu. Tuhan bisa mengerti kok kalau kita belum bisa memberi untuk pekerjaan Tuhan sebab kita belum jadi konglomerat…nanti Pa..kalau mau bantu gereja atau para misionaris…kalau kita sudah berkelimpahan…sekarang fokus pada keluargamu sendiri.”
Ayat ini langsung melintas dibenak kami sesaat setelah mendengar perbincangan temanku dengan istrinya itu,”Tak seorangpun dapat mengabdi kepada dua tuan. Karena jika demikian, ia akan membenci yang seorang dan mengasihi yang lain, atau ia akan setia kepada yang seorang dan tidak mengindahkan yang lain. Kamu tidak dapat mengabdi kepada TUHAN dan kepada Mamon(harta, penekanan penulis).” (Matius 6:24).
Di tempat sebuah keluarga muda, dimana sang suami punya hati untuk missi tengah berbincang dengan istrinya untuk pindah ke luar pulau dan melayani disana. “Apa…ke pulau kecil itu…amit-amit jabang bayi…engga mau Pi….kamu aza yang tinggal di tengah hutan itu…aku dan anak-anak tetap disini. Aku engga mau jauh-jauh dari Mami-ku pokoknya titik.Pelayanan kok musti ke kampung, kita ini orang kota…yang namanya pelayanan tuh sama aza di kota atau desa…jadi kita di kota aza pokoknya…Tuhan ngerti kok, kita engga siap tinggal di kampung.”
Tiba-tiba kami teringat perkataan Tuhan Yesus,”Jikalau seorang datang kepadaKU dan ia tidak membenci bapanya, ibunya, istrinya, anak-anaknya, saudaranya laki-laki atau perempuan, bahkan nyawanya sendiri, ia tidak dapat menjadi muridKU.” (Lukas 14:26).
Ini hanya merupakan dua kasus dimana sebuah keluarga Kristen yang “taat beribadah”, dalam artian aktif melayani pada ibadah gereja dan aktif di dalam beragam program gereja….mereka bukan keluarga yang “malas ke gereja” tetapi “aktivis gereja”. Bagi saya ini sangat mengejutkan….keluarga yang satu sudah mapan tapi merasa selalu “kurang” hingga sulit untuk membantu orang lain…dalam benaknya selalu saja apa yang bisa kudapatkan…bila ditanya mengapa menjadi Kristen?
Jawabannya dengan santai, “Sebab Tuhan Yesus itu baik, IA selalu mendengar dan menjawab doa saya. Apapun yang saya minta IA berikan….tidak ada Tuhan yang seperti Dia…selalu memberi.” Mendengar jawaban itu saya sedih juga, sebab ia mengiring Tuhan karena Tuhan memberi….bila Tuhan tidak memberi apa yang ia kehendaki bagaimana? Bila ada orang membutuhkan sang istri selalu melarang sang suami untuk memberi atau membantu, sebab istrinya selalu berdalih mereka pun masih berkekurangan. Hingga kadang sang suami sembunyi-sembunyi, memberi di luar sepengatahuan sang istri.
Pada keluarga yang lain, sang suami mendapatkan panggilan Tuhan atas hidupnya untuk melayani suku terabaikan tetapi sang istri sangat berat untuk berpisah dengan ibunya, sangat berat untuk meninggalkan pulau Jawa, sangat berat dengan kemapanan kota metropolitan. Meski mereka rajin ke gereja bahkan pelayanan tetapi itu tak mengubah apa pun, sang istri berkeras dan suami tak dapat berbuat apa-apa. Saat saya menanyakan istrinya mengapa ia tak mau pindah ke luar pulau, ia menjawab,”Sama aza Pak, mau pelayanan di sini atau di luar pulau…Tuhan mengerti kok, kalau kita maunya tinggal di sini dan tidak di sana. Tuhan khan Bapa yang baik…jadi Dia engga maksa kita kok.” Sang suami kadang curhat padaku, mengenai panggilan atas hidupnya yang begitu kuat tapi tidak dapat berbuat apa-apa sebab sang istri enggan tinggal di luar pulau Jawa dan berjauhan dengan ibunya.
Melihat hanya dari dua kasus di atas timbul pertanyaan dalam benak kami….di dalam gereja sudah diajarkan apa saja sih? Mengapa “output”nya jemaat Tuhan, sangat “kekanak-kanakan” ?
Bila kita mengakui Yesus Kristus sebagai TUHAN, maka apa pun yang IA sabdakan pada kita…”kita harus mentaatinya”…tanpa kompromi. Yang jadi duduk persoalan adalah Tuhan kita sebenarnya itu Yesus Kristus atau Uang dan Kenyamanan Hidup atau diri kita sendiri sudah jadi tuhan? Kita bisa saja melakukan berbagai aktivitas keagamaan bahkan jadi pendeta sekalipun…tetapi sebenarnya hati kita bukan bagi Yesus Kristus…hati kita dikuasai penuh oleh Mamon dan diri sendiri. Orientasi hidup kita bukan untuk melakukan tujuan TUHAN di muka bumi..tujuan kita hanya bagaimana hidup kaya raya dan “enjoy” selama di bumi dan lalu masuk surga. Sebab itu berita Injil yang disukai kebanyakan orang; “Tuhan Yesus menanggung kutuk kita dikayu salib agar hidup kita diberkati (khusus penekanannya pada kaya dan sehat) alias Prosperity Gospel (Injil Kemakmuran)” dan Tuhan Yesus mati di kayu salib untuk menyelamatkan kita hingga kita dapat masuk surga…sekali terima DIA pasti selamat meski kita masih hidup dalam dosa sekalipun (mau selamat di dalam Tuhan tetapi juga masih menggemari dosa dalam kehidupan sehari-hari).
Ketika jemaat diajar untuk berbagi harta kekayaan untuk pekerjaan Tuhan, missi , sosial berbagi dengan saudara yang kurang beruntung, membangun kota-nya dstnya. Mereka memegang erat hartanya, mereka takut bahwa mereka tidak bisa menikmati hidup dan untuk berbagi sebab mereka sudah bekerja keras untuk mendapatkannya. Jemaat Tuhan kasihnya menjadi dingin terhadap sesama, falsafah hidupnya “ yang penting gua happy…orang lain susah itu karena mereka males atau lagi sial”….
Ketika mendengar kata penginjilan atau missi, kebanyakan mengatakan itu tugas pendeta dan penginjil…padahal Tuhan menyatakan bahwa semua orang percaya harus menjadi murid Kristus dan menjadi saksi, sebagai terang dan garam dunia sebab Tuhan Yesus ada di dalam kita. Jangankan menjadi saksi, mendukung pelayanan missi dan penginjilan pun tak pernah bahkan berdalih dengan mengatakan ”Kalau Tuhan yang memanggil, pasti Tuhan akan cukupi pelayananmu…” Memang pernyataan ini benar, namun jika ini hanya dijadikan dalih karena tidak peduli dengan pekerjaan Tuhan, itulah yang salah. Ingat, Tuhan melihat motivasi kita.
Rasanya sedih melihat banyak rumahtangga Kristen….yang tidak mengerti rencana Tuhan atas hidup mereka. Tuhan Yesus tidak mati di atas kayu salib agar kita hidup “happy” dan lalu masuk surga. Kita ditebus untuk melakukan tujuan dan missi ilahi selama kita ada di muka bumi. Tidak cukup hanya menjadi orang Kristen cek-list….pergi ke gereja hanya sebagai formalitas seperti seorang anak masuk sekolah mengisi absensi….jangan pernah berpikir bahwa dengan memberi perpuluhan dan persembahan sudah habis tugasmu, dan menyerahkan tanggungjawab pekerjaan Tuhan pada pendeta atau full timer gereja…..atau berpikir sudah cukup dengan berdoa pribadi dan membaca Alkitab setiap hari, kita sudah jadi orang Kristen yang baik, berdoa dan membaca Alkitab itu baik tentunya tapi bila semua hanya jadi formalitas belaka…..semua sia-sia.
Aku melihat dan merenungkan….ini bukan tentang seberapa rajinnya kita aktif dalam program gereja, meskipun itu baik-baik saja. Tetapi semua akan menjadi sia-sia…bila kita tidak sungguh-sungguh menjadi murid Kristus. Yang setiap hari datang ke kaki Tuhan, memikul salib dan bertanya,”Apakah kehendakMu Tuhan untuk hambaMU ini kerjakan pada hari ini?” Keluarga Kristen harus dibangun pada dasar yang teguh yaitu Yesus Kristus sendiri…kita harus membangun hubungan (relation) dengan DIA dan bukan sekedar keagamawian (religion).
TUHAN memanggil kita untuk:
Menjadi terang dan garam.
Matius 5:13 : "Kamu adalah garam dunia. Jika garam itu menjadi tawar, dengan apakah ia diasinkan? Tidak ada lagi gunanya selain dibuang dan diinjak orang.
Matius 5:14 : Kamu adalah terang dunia. Kota yang terletak di atas gunung tidak mungkin tersembunyi.
Matius 5:15 : Lagipula orang tidak menyalakan pelita lalu meletakkannya di bawah gantang, melainkan di atas kaki dian sehingga menerangi semua orang di dalam rumah itu.
Matius 5:16 : Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga."
Menjadi Pelaku Firman Tuhan.
Matius 7:24 : "Setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan melakukannya, ia sama dengan orang yang bijaksana, yang mendirikan rumahnya di atas batu.
Matius 7:25 : Kemudian turunlah hujan dan datanglah banjir, lalu angin melanda rumah itu, tetapi rumah itu tidak rubuh sebab didirikan di atas batu.
Matius 7:26 : Tetapi setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan tidak melakukannya, ia sama dengan orang yang bodoh, yang mendirikan rumahnya di atas pasir.
Matius 7:27 : Kemudian turunlah hujan dan datanglah banjir, lalu angin melanda rumah itu, sehingga rubuhlah rumah itu dan hebatlah kerusakannya."
Menjadi murid dan memuridkan.
Lukas 9:23 : Kata-Nya kepada mereka semua: "Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya setiap hari dan mengikut Aku.
Lukas 9:24 : Karena barangsiapa mau menyelamatkan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya; tetapi barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan menyelamatkannya.
Matius 28:18 : Yesus mendekati mereka dan berkata: "Kepada-Ku telah diberikan segala kuasa di sorga dan di bumi.
Matius 28:19 : Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus,
Matius 28:20 : dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman."
Kejadian 1:27 : Maka TUHAN menciptakan manusia itu menurut gambar-Nya, menurut gambar Tuhan diciptakan-Nya dia; laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya mereka.
Kejadian 1:28 : TUHAN memberkati mereka, lalu TUHAN berfirman kepada mereka: "Beranakcuculah dan bertambah banyak; penuhilah bumi dan taklukkanlah itu, berkuasalah atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas segala binatang yang merayap di bumi." (Kejadian 1:27-28)
Apa yang merupakan impian Tuhan (Wahyu 7:9-17):
Wahyu 7:9 : Kemudian dari pada itu aku melihat: sesungguhnya, suatu kumpulan besar orang banyak yang tidak dapat terhitung banyaknya, dari segala bangsa dan suku dan kaum dan bahasa, berdiri di hadapan takhta dan di hadapan Anak Domba, memakai jubah putih dan memegang daun-daun palem di tangan mereka.
Wahyu 7:10 : Dan dengan suara nyaring mereka berseru: "Keselamatan bagi TUHAN kami yang duduk di atas takhta dan bagi Anak Domba!"
Wahyu 7:11 : Dan semua malaikat berdiri mengelilingi takhta dan tua-tua dan keempat makhluk itu; mereka tersungkur di hadapan takhta itu dan menyembah TUHAN,
Wahyu 7:12 : sambil berkata: "Amin! puji-pujian dan kemuliaan, dan hikmat dan syukur, dan hormat dan kekuasaan dan kekuatan bagi Allah kita sampai selama-lamanya! Amin!"
Wahyu 7:13 : Dan seorang dari antara tua-tua itu berkata kepadaku: "Siapakah mereka yang memakai jubah putih itu dan dari manakah mereka datang?"
Wahyu 7:14 : Maka kataku kepadanya: "Tuanku, tuan mengetahuinya." Lalu ia berkata kepadaku: "Mereka ini adalah orang-orang yang keluar dari kesusahan yang besar; dan mereka telah mencuci jubah mereka dan membuatnya putih di dalam darah Anak Domba.
Wahyu 7:15 : Karena itu mereka berdiri di hadapan takhta TUHAN dan melayani Dia siang malam di Bait Suci-Nya. Dan Ia yang duduk di atas takhta itu akan membentangkan kemah-Nya di atas mereka.
Wahyu 7:16 : Mereka tidak akan menderita lapar dan dahaga lagi, dan matahari atau panas terik tidak akan menimpa mereka lagi.
Wahyu 7:17 : Sebab Anak Domba yang di tengah-tengah takhta itu, akan menggembalakan mereka dan akan menuntun mereka ke mata air kehidupan. Dan TUHAN akan menghapus segala air mata dari mata mereka."
Keluarga Kristen ada di muka bumi dengan sebuah tugas; menjadi terang dan garam dunia, menjadi pelaku firman Tuhan, menjadi murid Kristus yang setiap hari memikul salib dan memuridkan bangsa-bangsa dan memperluas Kerajaan TUHAN.
Hingga suatu hari kelak, kita dapat berkumpul bersama Tuhan dengan orang-orang dari setiap suku bangsa dan bahasa. Itulah panggilan bagi setiap keluarga Kristen…bukan hanya bagi para rohaniwan.
Ayo keluarga Kristen bangkit berdiri dan keluar dari tempurung rasa nyaman dan aman sebab bila kita tidak siap akan tiba waktunya (Ibrani 12:25-29) :
Ibrani 12:25 : Jagalah supaya kamu jangan menolak Dia, yang berfirman. Sebab jikalau mereka, yang menolak Dia yang menyampaikan firman TUHAN di bumi, tidak luput, apa lagi kita, jika kita berpaling dari Dia yang berbicara dari sorga?
Ibrani 12:26 : Waktu itu suara-Nya menggoncangkan bumi, tetapi sekarang Ia memberikan janji: "Satu kali lagi Aku akan menggoncangkan bukan hanya bumi saja, melainkan langit juga."
Ibrani 12:27 : Ungkapan "Satu kali lagi" menunjuk kepada perubahan pada apa yang dapat digoncangkan, karena ia dijadikan supaya tinggal tetap apa yang tidak tergoncangkan.
Ibrani 12:28 : Jadi, karena kita menerima kerajaan yang tidak tergoncangkan, marilah kita mengucap syukur dan beribadah kepada Tuhan menurut cara yang berkenan kepada-Nya, dengan hormat dan takut.
Ibrani 12:29 : Sebab Tuhan kita adalah api yang menghanguskan.
Doa kami : ”Tuhan Yesus, pulihkan kembali fungsi keluarga Kristen di muka bumi ini. Pertama-tama mulailah dari keluarga hambaMu ini, ajar kami…mampukan kami untuk dapat menjadi teladan bagi yang lain. Amien.
Tuhan Yesus memberkati.
Ayat ini langsung melintas dibenak kami sesaat setelah mendengar perbincangan temanku dengan istrinya itu,”Tak seorangpun dapat mengabdi kepada dua tuan. Karena jika demikian, ia akan membenci yang seorang dan mengasihi yang lain, atau ia akan setia kepada yang seorang dan tidak mengindahkan yang lain. Kamu tidak dapat mengabdi kepada TUHAN dan kepada Mamon(harta, penekanan penulis).” (Matius 6:24).
Di tempat sebuah keluarga muda, dimana sang suami punya hati untuk missi tengah berbincang dengan istrinya untuk pindah ke luar pulau dan melayani disana. “Apa…ke pulau kecil itu…amit-amit jabang bayi…engga mau Pi….kamu aza yang tinggal di tengah hutan itu…aku dan anak-anak tetap disini. Aku engga mau jauh-jauh dari Mami-ku pokoknya titik.Pelayanan kok musti ke kampung, kita ini orang kota…yang namanya pelayanan tuh sama aza di kota atau desa…jadi kita di kota aza pokoknya…Tuhan ngerti kok, kita engga siap tinggal di kampung.”
Tiba-tiba kami teringat perkataan Tuhan Yesus,”Jikalau seorang datang kepadaKU dan ia tidak membenci bapanya, ibunya, istrinya, anak-anaknya, saudaranya laki-laki atau perempuan, bahkan nyawanya sendiri, ia tidak dapat menjadi muridKU.” (Lukas 14:26).
Ini hanya merupakan dua kasus dimana sebuah keluarga Kristen yang “taat beribadah”, dalam artian aktif melayani pada ibadah gereja dan aktif di dalam beragam program gereja….mereka bukan keluarga yang “malas ke gereja” tetapi “aktivis gereja”. Bagi saya ini sangat mengejutkan….keluarga yang satu sudah mapan tapi merasa selalu “kurang” hingga sulit untuk membantu orang lain…dalam benaknya selalu saja apa yang bisa kudapatkan…bila ditanya mengapa menjadi Kristen?
Jawabannya dengan santai, “Sebab Tuhan Yesus itu baik, IA selalu mendengar dan menjawab doa saya. Apapun yang saya minta IA berikan….tidak ada Tuhan yang seperti Dia…selalu memberi.” Mendengar jawaban itu saya sedih juga, sebab ia mengiring Tuhan karena Tuhan memberi….bila Tuhan tidak memberi apa yang ia kehendaki bagaimana? Bila ada orang membutuhkan sang istri selalu melarang sang suami untuk memberi atau membantu, sebab istrinya selalu berdalih mereka pun masih berkekurangan. Hingga kadang sang suami sembunyi-sembunyi, memberi di luar sepengatahuan sang istri.
Pada keluarga yang lain, sang suami mendapatkan panggilan Tuhan atas hidupnya untuk melayani suku terabaikan tetapi sang istri sangat berat untuk berpisah dengan ibunya, sangat berat untuk meninggalkan pulau Jawa, sangat berat dengan kemapanan kota metropolitan. Meski mereka rajin ke gereja bahkan pelayanan tetapi itu tak mengubah apa pun, sang istri berkeras dan suami tak dapat berbuat apa-apa. Saat saya menanyakan istrinya mengapa ia tak mau pindah ke luar pulau, ia menjawab,”Sama aza Pak, mau pelayanan di sini atau di luar pulau…Tuhan mengerti kok, kalau kita maunya tinggal di sini dan tidak di sana. Tuhan khan Bapa yang baik…jadi Dia engga maksa kita kok.” Sang suami kadang curhat padaku, mengenai panggilan atas hidupnya yang begitu kuat tapi tidak dapat berbuat apa-apa sebab sang istri enggan tinggal di luar pulau Jawa dan berjauhan dengan ibunya.
Melihat hanya dari dua kasus di atas timbul pertanyaan dalam benak kami….di dalam gereja sudah diajarkan apa saja sih? Mengapa “output”nya jemaat Tuhan, sangat “kekanak-kanakan” ?
Bila kita mengakui Yesus Kristus sebagai TUHAN, maka apa pun yang IA sabdakan pada kita…”kita harus mentaatinya”…tanpa kompromi. Yang jadi duduk persoalan adalah Tuhan kita sebenarnya itu Yesus Kristus atau Uang dan Kenyamanan Hidup atau diri kita sendiri sudah jadi tuhan? Kita bisa saja melakukan berbagai aktivitas keagamaan bahkan jadi pendeta sekalipun…tetapi sebenarnya hati kita bukan bagi Yesus Kristus…hati kita dikuasai penuh oleh Mamon dan diri sendiri. Orientasi hidup kita bukan untuk melakukan tujuan TUHAN di muka bumi..tujuan kita hanya bagaimana hidup kaya raya dan “enjoy” selama di bumi dan lalu masuk surga. Sebab itu berita Injil yang disukai kebanyakan orang; “Tuhan Yesus menanggung kutuk kita dikayu salib agar hidup kita diberkati (khusus penekanannya pada kaya dan sehat) alias Prosperity Gospel (Injil Kemakmuran)” dan Tuhan Yesus mati di kayu salib untuk menyelamatkan kita hingga kita dapat masuk surga…sekali terima DIA pasti selamat meski kita masih hidup dalam dosa sekalipun (mau selamat di dalam Tuhan tetapi juga masih menggemari dosa dalam kehidupan sehari-hari).
Ketika jemaat diajar untuk berbagi harta kekayaan untuk pekerjaan Tuhan, missi , sosial berbagi dengan saudara yang kurang beruntung, membangun kota-nya dstnya. Mereka memegang erat hartanya, mereka takut bahwa mereka tidak bisa menikmati hidup dan untuk berbagi sebab mereka sudah bekerja keras untuk mendapatkannya. Jemaat Tuhan kasihnya menjadi dingin terhadap sesama, falsafah hidupnya “ yang penting gua happy…orang lain susah itu karena mereka males atau lagi sial”….
Ketika mendengar kata penginjilan atau missi, kebanyakan mengatakan itu tugas pendeta dan penginjil…padahal Tuhan menyatakan bahwa semua orang percaya harus menjadi murid Kristus dan menjadi saksi, sebagai terang dan garam dunia sebab Tuhan Yesus ada di dalam kita. Jangankan menjadi saksi, mendukung pelayanan missi dan penginjilan pun tak pernah bahkan berdalih dengan mengatakan ”Kalau Tuhan yang memanggil, pasti Tuhan akan cukupi pelayananmu…” Memang pernyataan ini benar, namun jika ini hanya dijadikan dalih karena tidak peduli dengan pekerjaan Tuhan, itulah yang salah. Ingat, Tuhan melihat motivasi kita.
Rasanya sedih melihat banyak rumahtangga Kristen….yang tidak mengerti rencana Tuhan atas hidup mereka. Tuhan Yesus tidak mati di atas kayu salib agar kita hidup “happy” dan lalu masuk surga. Kita ditebus untuk melakukan tujuan dan missi ilahi selama kita ada di muka bumi. Tidak cukup hanya menjadi orang Kristen cek-list….pergi ke gereja hanya sebagai formalitas seperti seorang anak masuk sekolah mengisi absensi….jangan pernah berpikir bahwa dengan memberi perpuluhan dan persembahan sudah habis tugasmu, dan menyerahkan tanggungjawab pekerjaan Tuhan pada pendeta atau full timer gereja…..atau berpikir sudah cukup dengan berdoa pribadi dan membaca Alkitab setiap hari, kita sudah jadi orang Kristen yang baik, berdoa dan membaca Alkitab itu baik tentunya tapi bila semua hanya jadi formalitas belaka…..semua sia-sia.
Aku melihat dan merenungkan….ini bukan tentang seberapa rajinnya kita aktif dalam program gereja, meskipun itu baik-baik saja. Tetapi semua akan menjadi sia-sia…bila kita tidak sungguh-sungguh menjadi murid Kristus. Yang setiap hari datang ke kaki Tuhan, memikul salib dan bertanya,”Apakah kehendakMu Tuhan untuk hambaMU ini kerjakan pada hari ini?” Keluarga Kristen harus dibangun pada dasar yang teguh yaitu Yesus Kristus sendiri…kita harus membangun hubungan (relation) dengan DIA dan bukan sekedar keagamawian (religion).
TUHAN memanggil kita untuk:
Menjadi terang dan garam.
Matius 5:13 : "Kamu adalah garam dunia. Jika garam itu menjadi tawar, dengan apakah ia diasinkan? Tidak ada lagi gunanya selain dibuang dan diinjak orang.
Matius 5:14 : Kamu adalah terang dunia. Kota yang terletak di atas gunung tidak mungkin tersembunyi.
Matius 5:15 : Lagipula orang tidak menyalakan pelita lalu meletakkannya di bawah gantang, melainkan di atas kaki dian sehingga menerangi semua orang di dalam rumah itu.
Matius 5:16 : Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga."
Menjadi Pelaku Firman Tuhan.
Matius 7:24 : "Setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan melakukannya, ia sama dengan orang yang bijaksana, yang mendirikan rumahnya di atas batu.
Matius 7:25 : Kemudian turunlah hujan dan datanglah banjir, lalu angin melanda rumah itu, tetapi rumah itu tidak rubuh sebab didirikan di atas batu.
Matius 7:26 : Tetapi setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan tidak melakukannya, ia sama dengan orang yang bodoh, yang mendirikan rumahnya di atas pasir.
Matius 7:27 : Kemudian turunlah hujan dan datanglah banjir, lalu angin melanda rumah itu, sehingga rubuhlah rumah itu dan hebatlah kerusakannya."
Menjadi murid dan memuridkan.
Lukas 9:23 : Kata-Nya kepada mereka semua: "Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya setiap hari dan mengikut Aku.
Lukas 9:24 : Karena barangsiapa mau menyelamatkan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya; tetapi barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan menyelamatkannya.
Matius 28:18 : Yesus mendekati mereka dan berkata: "Kepada-Ku telah diberikan segala kuasa di sorga dan di bumi.
Matius 28:19 : Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus,
Matius 28:20 : dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman."
Kejadian 1:27 : Maka TUHAN menciptakan manusia itu menurut gambar-Nya, menurut gambar Tuhan diciptakan-Nya dia; laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya mereka.
Kejadian 1:28 : TUHAN memberkati mereka, lalu TUHAN berfirman kepada mereka: "Beranakcuculah dan bertambah banyak; penuhilah bumi dan taklukkanlah itu, berkuasalah atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas segala binatang yang merayap di bumi." (Kejadian 1:27-28)
Apa yang merupakan impian Tuhan (Wahyu 7:9-17):
Wahyu 7:9 : Kemudian dari pada itu aku melihat: sesungguhnya, suatu kumpulan besar orang banyak yang tidak dapat terhitung banyaknya, dari segala bangsa dan suku dan kaum dan bahasa, berdiri di hadapan takhta dan di hadapan Anak Domba, memakai jubah putih dan memegang daun-daun palem di tangan mereka.
Wahyu 7:10 : Dan dengan suara nyaring mereka berseru: "Keselamatan bagi TUHAN kami yang duduk di atas takhta dan bagi Anak Domba!"
Wahyu 7:11 : Dan semua malaikat berdiri mengelilingi takhta dan tua-tua dan keempat makhluk itu; mereka tersungkur di hadapan takhta itu dan menyembah TUHAN,
Wahyu 7:12 : sambil berkata: "Amin! puji-pujian dan kemuliaan, dan hikmat dan syukur, dan hormat dan kekuasaan dan kekuatan bagi Allah kita sampai selama-lamanya! Amin!"
Wahyu 7:13 : Dan seorang dari antara tua-tua itu berkata kepadaku: "Siapakah mereka yang memakai jubah putih itu dan dari manakah mereka datang?"
Wahyu 7:14 : Maka kataku kepadanya: "Tuanku, tuan mengetahuinya." Lalu ia berkata kepadaku: "Mereka ini adalah orang-orang yang keluar dari kesusahan yang besar; dan mereka telah mencuci jubah mereka dan membuatnya putih di dalam darah Anak Domba.
Wahyu 7:15 : Karena itu mereka berdiri di hadapan takhta TUHAN dan melayani Dia siang malam di Bait Suci-Nya. Dan Ia yang duduk di atas takhta itu akan membentangkan kemah-Nya di atas mereka.
Wahyu 7:16 : Mereka tidak akan menderita lapar dan dahaga lagi, dan matahari atau panas terik tidak akan menimpa mereka lagi.
Wahyu 7:17 : Sebab Anak Domba yang di tengah-tengah takhta itu, akan menggembalakan mereka dan akan menuntun mereka ke mata air kehidupan. Dan TUHAN akan menghapus segala air mata dari mata mereka."
Keluarga Kristen ada di muka bumi dengan sebuah tugas; menjadi terang dan garam dunia, menjadi pelaku firman Tuhan, menjadi murid Kristus yang setiap hari memikul salib dan memuridkan bangsa-bangsa dan memperluas Kerajaan TUHAN.
Hingga suatu hari kelak, kita dapat berkumpul bersama Tuhan dengan orang-orang dari setiap suku bangsa dan bahasa. Itulah panggilan bagi setiap keluarga Kristen…bukan hanya bagi para rohaniwan.
Ayo keluarga Kristen bangkit berdiri dan keluar dari tempurung rasa nyaman dan aman sebab bila kita tidak siap akan tiba waktunya (Ibrani 12:25-29) :
Ibrani 12:25 : Jagalah supaya kamu jangan menolak Dia, yang berfirman. Sebab jikalau mereka, yang menolak Dia yang menyampaikan firman TUHAN di bumi, tidak luput, apa lagi kita, jika kita berpaling dari Dia yang berbicara dari sorga?
Ibrani 12:26 : Waktu itu suara-Nya menggoncangkan bumi, tetapi sekarang Ia memberikan janji: "Satu kali lagi Aku akan menggoncangkan bukan hanya bumi saja, melainkan langit juga."
Ibrani 12:27 : Ungkapan "Satu kali lagi" menunjuk kepada perubahan pada apa yang dapat digoncangkan, karena ia dijadikan supaya tinggal tetap apa yang tidak tergoncangkan.
Ibrani 12:28 : Jadi, karena kita menerima kerajaan yang tidak tergoncangkan, marilah kita mengucap syukur dan beribadah kepada Tuhan menurut cara yang berkenan kepada-Nya, dengan hormat dan takut.
Ibrani 12:29 : Sebab Tuhan kita adalah api yang menghanguskan.
Doa kami : ”Tuhan Yesus, pulihkan kembali fungsi keluarga Kristen di muka bumi ini. Pertama-tama mulailah dari keluarga hambaMu ini, ajar kami…mampukan kami untuk dapat menjadi teladan bagi yang lain. Amien.
Tuhan Yesus memberkati.
Langganan:
Postingan (Atom)