"Lalu Nuh mendirikan mezbah bagi Tuhan. Lalu TUHAN memberkati Nuh dan anak-anaknya." [ Kejadian 8:20 dan 9:1 ].
Menurut arti kata-nya, mezbah adalah tempat korban dipersembahkan. Mezbah pertama yang dicatat Alkitab adalah mezbah yang didirikan oleh Nuh. Melalui mezbah inilah Nuh mempersembahkan korban yang merupakan suatu penyembahan kepada Tuhan. Yang menarik untuk kita perhatikan disini adalah mezbah ini
didirikan oleh Nuh, tetapi sebagai respon atas perbuatan Nuh, TUHAN memberkati Nuh dan anak-anaknya. Jadi mezbah yangdidirikan Nuh bukanlah mezbah pribadi tetapi mezbah keluarga.
Apakah artinya mezbah keluarga ? Bagaimana kita saat ini memahami dan menerapkan mezbah keluarga ini ?
Secara sederhana, mezbah keluarga adalah suatu tindakan yang diambil oleh seorang bapa untuk memimpin seluruh anggota keluarga agar menyembah Tuhan bersama-sama. Yang perlu digarisbawahi adalah pengertian menyembah Tuhan bersama-sama. Menyembah Tuhan bersama-sama bukanlah berarti masing-masing anggota keluarga melayani Tuhan secara pribadi, mengadakan saat teduh dan merenungkan firman
sendiri-sendiri. Kalau demikian, ini berarti masing-masing anggota keluarga mendirikan mezbah pribadi.
Mezbah keluarga haruslah didirikan oleh seorang bapa, karena dialah yang harus memimpin seluruh anggota keluarga menyembah dan melayani Tuhan secara bersama-sama. Memang tidak mudah bagi seorang bapa untuk mendirikan mezbah keluarga. Sebelum Nuh mendirikan mezbah keluarga, ia telah lebih dahulu mendapat kasih karunia dimata Tuhan [ Kej. 6:8 ]. Nuhdan seluruh keluarganya juga telah melihat perbuatan Tuhan yang besar dengan menyelamat kan mereka dari air bah. Setelah melalui semua perkara ini, barulah
Nuh dapat mendirikan mezbah keluarga.
Seorang bapa haruslah benar-benar pemimpin rohani bagi keluarganya. Bapa haruslah memiliki dan menanamkan tujuan, misi dan visi yang jelas, agar seluruh anggota keluarga dapat menyembah dan melayani Tuhan bersama-sama sebagai suatu tim. Yang umumnya kita lihat pada keluarga-keluarga Kristen adalah
masing-masing anggota melayani Tuhan secara sendiri-sendiri, atau kalaupun mereka melayani Tuhan ditempat yang sama, kepemimpinan seorang ayah tidak terlihat didalam keluarga itu. Keluarga itu bukan
merupakan suatu tim pelayan. Sebenarnya, keluarga adalah tim pelayan dengan kepemimpinan seorang bapa.
Keluarga seperti ini benar-benar satu, dalam arti hanya memiliki satu mezbah yaitu mezbah keluarga.
Kebanyakan keluarga Kristen memiliki banyak mezbah pribadi, ya.ini memang lebih baik dari pada tidak ada mezbah sama-sekali. Tetapi yang kita bicarakan adalah mezbah keluarga yang didirikan oleh seorang bapa, dimana sebagai responnya Tuhan memberkati dan mempersatukan seluruh anggota keluarga. Semoga
keluarga-keluarga Kristen memiliki hanya satu mezbah yaitu mezbah keluarga.
Tuhan Yesus memberkati.
Selasa, 13 Maret 2012
Renungan Harian ~ 25.03.2012. Pengakuan Seorang Bapa.
"Tetapi aku dan seisi rumahku, kami akan beribadah kepada Tuhan !" [ Yosua 24:15 ].
Ketika Yosua telah menjadi tua dan lanjut umur, ia memanggil seluruh orang Israel yakni para tua-tuanya, para kepalanya, para hakimnya dan para pengatur pasukannya. Dihadapan seluruh Israel, Yosua membuat suatu pengakuan yang sangat penting, yaitu bahwa ia dan seisi rumahnya akan beribadah kepada Tuhan.
Pengakuan Yosua sebagai seorang bapa, memberi dampak bukan saja bagi seisi rumahnya tetapi juga bagi bangsa Israel. Bukan saja seisi rumahnya beribadah kepada Tuhan, tetapi seperti ditegaskan dalam Yosua 24:31 bahwa, "Orang Israel beribadah kepada Tuhan sepanjang zaman Yosua ." Mengapa demikian ? Mengapa Orang Israel beribadah kepada Tuhan hanya sepanjang zaman Yosua ? Kami percaya penyebabnya adalah karena ada kuasa didalam pengakuan seorang bapa. Yosua bukan hanya bapa bagi seisi rumahnya, tetapi juga bapa bagi bangsa Israel.
Mengapa ada kuasa didalam pengakuan seorang bapa ? Kita perlu menyadari sdr/i, kedudukan bapa itu menurut pandangan Tuhan. Dihadapan Tuhan, hanya ada dua bapa atau kepala bagi ras manusia, yang pertama Adam dan yang kedua Kristus Yesus. Didalam surat Roma 5:19 ada tertulis, "Jadi sama seperti oleh ketidaktaatan satu orang semua orang telah menjadi orang berdosa, demikian pula oleh ketaatan satu orang semua orang menjadi orang benar" Bukankah sudah jelas disini bahwa Tuhan hanya melihat perbuatan bapa /
kepala ras manusia ? Banyak orang Kristen hanya bisa menerima bahwa karena Adam berbuat dosa maka seluruh manusia menjadi orang berdosa, tetapi tidak bisa menerima bahwa karena Kristus berbuat benar maka seluruh umat manusia menjadi orang benar. Orang Kristen yang sedemikian ini belum memahami
kedudukan bapa / kepala menurut pandangan Tuhan.
Sekarang kita kembali bertanya, mengapa ada kuasa didalam pengakuan seorang bapa ?
Jawabnya , karena Tuhan hanya melihat seorang bapa ? Ketika mulut seorang bapa mengucapkan suatu pengakuan, maka Tuhan memandangnya sebagai pengakuan seisi rumahnya. Walaupun mungkin ada anak-anak didalam rumahnya yang memberontak dan tidak mengikut Tuhan, maka cepat atau lambat, karena kuasa pengakuan itu, anak-anak yang memberontak akan ditaklukkan oleh kuasa Tuhan.
Alkitab menegaskan bahwa keselamatan itu, separuhnya adalah soal mulut mengaku, dan separuhnya lagi soal hati percaya [ Roma 10:9 ]. Memang jika mulut mengaku tapi hati tidak percaya, itu tidak ada artinya. Tetapiyang kita bicarakan adalah pengakuan seorang bapa yang lahir dari hati yang beribadah kepada Tuhan.
Saat ini, keluarga-keluarga Kristen memerlukan pengakuan seorang bapa secara terbuka. Didalam kebanyakan keluarga Kristen, nampaknya seorang ibu lebih rohani dari pada bapa, sehingga kelihatannya lebih pantas pengakuan itu diucapkan seorang ibu.Tetapi bagaimanapun juga Alkitab menegaskan bahwa pengakuan seorang bapa sebagai kepala, akan membawa dampak positif bagi seisi rumahnya.
Tuhan Yesus memberkati.
Ketika Yosua telah menjadi tua dan lanjut umur, ia memanggil seluruh orang Israel yakni para tua-tuanya, para kepalanya, para hakimnya dan para pengatur pasukannya. Dihadapan seluruh Israel, Yosua membuat suatu pengakuan yang sangat penting, yaitu bahwa ia dan seisi rumahnya akan beribadah kepada Tuhan.
Pengakuan Yosua sebagai seorang bapa, memberi dampak bukan saja bagi seisi rumahnya tetapi juga bagi bangsa Israel. Bukan saja seisi rumahnya beribadah kepada Tuhan, tetapi seperti ditegaskan dalam Yosua 24:31 bahwa, "Orang Israel beribadah kepada Tuhan sepanjang zaman Yosua ." Mengapa demikian ? Mengapa Orang Israel beribadah kepada Tuhan hanya sepanjang zaman Yosua ? Kami percaya penyebabnya adalah karena ada kuasa didalam pengakuan seorang bapa. Yosua bukan hanya bapa bagi seisi rumahnya, tetapi juga bapa bagi bangsa Israel.
Mengapa ada kuasa didalam pengakuan seorang bapa ? Kita perlu menyadari sdr/i, kedudukan bapa itu menurut pandangan Tuhan. Dihadapan Tuhan, hanya ada dua bapa atau kepala bagi ras manusia, yang pertama Adam dan yang kedua Kristus Yesus. Didalam surat Roma 5:19 ada tertulis, "Jadi sama seperti oleh ketidaktaatan satu orang semua orang telah menjadi orang berdosa, demikian pula oleh ketaatan satu orang semua orang menjadi orang benar" Bukankah sudah jelas disini bahwa Tuhan hanya melihat perbuatan bapa /
kepala ras manusia ? Banyak orang Kristen hanya bisa menerima bahwa karena Adam berbuat dosa maka seluruh manusia menjadi orang berdosa, tetapi tidak bisa menerima bahwa karena Kristus berbuat benar maka seluruh umat manusia menjadi orang benar. Orang Kristen yang sedemikian ini belum memahami
kedudukan bapa / kepala menurut pandangan Tuhan.
Sekarang kita kembali bertanya, mengapa ada kuasa didalam pengakuan seorang bapa ?
Jawabnya , karena Tuhan hanya melihat seorang bapa ? Ketika mulut seorang bapa mengucapkan suatu pengakuan, maka Tuhan memandangnya sebagai pengakuan seisi rumahnya. Walaupun mungkin ada anak-anak didalam rumahnya yang memberontak dan tidak mengikut Tuhan, maka cepat atau lambat, karena kuasa pengakuan itu, anak-anak yang memberontak akan ditaklukkan oleh kuasa Tuhan.
Alkitab menegaskan bahwa keselamatan itu, separuhnya adalah soal mulut mengaku, dan separuhnya lagi soal hati percaya [ Roma 10:9 ]. Memang jika mulut mengaku tapi hati tidak percaya, itu tidak ada artinya. Tetapiyang kita bicarakan adalah pengakuan seorang bapa yang lahir dari hati yang beribadah kepada Tuhan.
Saat ini, keluarga-keluarga Kristen memerlukan pengakuan seorang bapa secara terbuka. Didalam kebanyakan keluarga Kristen, nampaknya seorang ibu lebih rohani dari pada bapa, sehingga kelihatannya lebih pantas pengakuan itu diucapkan seorang ibu.Tetapi bagaimanapun juga Alkitab menegaskan bahwa pengakuan seorang bapa sebagai kepala, akan membawa dampak positif bagi seisi rumahnya.
Tuhan Yesus memberkati.
Renungan Harian ~ 24.02.2012. Membesarkan Anak.
"Didiklah orang muda menurut jalan yang patut baginya, maka pada masa tuanyapun ia tidak akan menyimpang dari pada jalan itu" [ Amsal 22:6 ].
Yang dimaksud dengan orang muda dalam ayat ini adalah anak kecil. Pada umumnya istilah anak kecil yang dimaksud berumur sekitar 5 tahun. Alkitab mengajarkan supaya anak kecil dididik menurut jalan yang patut baginya. Apabila hal ini dilakukan, maka akan genaplah janji yang indah ini yaitu, pada masa tuanyapun
ia tidak akan menyimpang dari jalan itu. Seorang anak yang dididik dengan benar, akan menjadi setia sampai masa tuanya. Anak ini tidak akan menyimpang kekiri atau kekanan, ia tidak akan murtad, ia tidak akan meninggalkan Tuhan, ia akan setia sampai akhirnya. Betapa indahnya janji firman Tuhan ini, terutama bagi para orang tua. Ada suatu kepastian bahwa anak-anaknya tidak akan menyimpang dari jalan Tuhan.
Tetapi sering kita lihat dari pengalaman, bagaimana seorang anak yang rajin pergi ke sekolah minggu, ketika menjadi remaja hilang entah kemana. Atau seorang pemuda/i yang aktif dalam pelayanan kekristenan, ketika menikah tenggelam dalam rutinitas rumah tangga tanpa tujuan, misi dan visi yang jelas.
Mengapa demikian ?
Alkitab menjelaskan penyebabnya, yaitu karena ia tidak dididik menurut jalan yang patut baginya. Ia tidak setia di jalan yang seharusnya ia lalui, karena memang ia tidak dilatih untuk menempuh jalan itu.
Setiap anak mempunyai suatu jalan yang seharusnya ia lalui, jika ia ingin berhasil sebagai pelayan Tuhan, sebagai suami/isteri, dan sebagai profesional Kristen. Tetapi anak kecil tidaklah mengetahui jalan itu, juga ia belum dipersiapkan untuk melaluinya dengan tekun. Siapa yang bertanggung jawab untuk memberitahukannya, dan melatihnya agar ia dapat melaluinya dengan setia ?
Tentu saja Orang tualah yang bertanggung jawab dalam hal ini, karena kepada orang tuanya anak-anak ini dititipkan Tuhan. Ayat diatas dapat ditulis sedemikian, " Hai orang tua, didiklah anak-anakmu."
Dalam pengalaman kita, sering dijumpai anak-anak dari "pelayan Tuhan" yang nakal dan susah diatur. Anak-anak ini bahkan terluka pada orang tuanya karena merasa kurang diperhatikan. Mereka merasa orang tuanya lebih memperhatikan "pelayanan" dari pada diri mereka.
Memang membesarkan anak, tidak langsung terlihat hasilnya. Banyak orang tua Kristen lebih senang mengerjakan sesuatu yang langsung dapat dilihat hasilnya, entah itu karier atau apa yang disebut pelayanan. Saatnya, orang tua Kristen perlu belajar memahami cara kerja Tuhan dalam penyelamatan dunia ini. Tuhan
mulai dari satu orang bapa yaitu Abraham,dan penyelamatan ini baru akan dirampungkan oleh keturunannya berabad-abad bahkan berzaman-zaman kemudian. Bagaimana seandainya anak Abraham, nakal-nakal
dan susah diatur ? Bagaimana jika seandainya Ishak dan Yakub tidak setia di jalan yang harus ditempuhnya ? Semoga perintah dalam Amsal 22:6 ini ditaati oleh para orang*tua Kristen, dan semoga genaplah janji Tuhan dengan bangkitnya anak-anak yang setia menempuh jalan yang harus dilaluinya.
Tuhan Yesus memberkati.
Yang dimaksud dengan orang muda dalam ayat ini adalah anak kecil. Pada umumnya istilah anak kecil yang dimaksud berumur sekitar 5 tahun. Alkitab mengajarkan supaya anak kecil dididik menurut jalan yang patut baginya. Apabila hal ini dilakukan, maka akan genaplah janji yang indah ini yaitu, pada masa tuanyapun
ia tidak akan menyimpang dari jalan itu. Seorang anak yang dididik dengan benar, akan menjadi setia sampai masa tuanya. Anak ini tidak akan menyimpang kekiri atau kekanan, ia tidak akan murtad, ia tidak akan meninggalkan Tuhan, ia akan setia sampai akhirnya. Betapa indahnya janji firman Tuhan ini, terutama bagi para orang tua. Ada suatu kepastian bahwa anak-anaknya tidak akan menyimpang dari jalan Tuhan.
Tetapi sering kita lihat dari pengalaman, bagaimana seorang anak yang rajin pergi ke sekolah minggu, ketika menjadi remaja hilang entah kemana. Atau seorang pemuda/i yang aktif dalam pelayanan kekristenan, ketika menikah tenggelam dalam rutinitas rumah tangga tanpa tujuan, misi dan visi yang jelas.
Mengapa demikian ?
Alkitab menjelaskan penyebabnya, yaitu karena ia tidak dididik menurut jalan yang patut baginya. Ia tidak setia di jalan yang seharusnya ia lalui, karena memang ia tidak dilatih untuk menempuh jalan itu.
Setiap anak mempunyai suatu jalan yang seharusnya ia lalui, jika ia ingin berhasil sebagai pelayan Tuhan, sebagai suami/isteri, dan sebagai profesional Kristen. Tetapi anak kecil tidaklah mengetahui jalan itu, juga ia belum dipersiapkan untuk melaluinya dengan tekun. Siapa yang bertanggung jawab untuk memberitahukannya, dan melatihnya agar ia dapat melaluinya dengan setia ?
Tentu saja Orang tualah yang bertanggung jawab dalam hal ini, karena kepada orang tuanya anak-anak ini dititipkan Tuhan. Ayat diatas dapat ditulis sedemikian, " Hai orang tua, didiklah anak-anakmu."
Dalam pengalaman kita, sering dijumpai anak-anak dari "pelayan Tuhan" yang nakal dan susah diatur. Anak-anak ini bahkan terluka pada orang tuanya karena merasa kurang diperhatikan. Mereka merasa orang tuanya lebih memperhatikan "pelayanan" dari pada diri mereka.
Memang membesarkan anak, tidak langsung terlihat hasilnya. Banyak orang tua Kristen lebih senang mengerjakan sesuatu yang langsung dapat dilihat hasilnya, entah itu karier atau apa yang disebut pelayanan. Saatnya, orang tua Kristen perlu belajar memahami cara kerja Tuhan dalam penyelamatan dunia ini. Tuhan
mulai dari satu orang bapa yaitu Abraham,dan penyelamatan ini baru akan dirampungkan oleh keturunannya berabad-abad bahkan berzaman-zaman kemudian. Bagaimana seandainya anak Abraham, nakal-nakal
dan susah diatur ? Bagaimana jika seandainya Ishak dan Yakub tidak setia di jalan yang harus ditempuhnya ? Semoga perintah dalam Amsal 22:6 ini ditaati oleh para orang*tua Kristen, dan semoga genaplah janji Tuhan dengan bangkitnya anak-anak yang setia menempuh jalan yang harus dilaluinya.
Tuhan Yesus memberkati.
Renungan harian ~ 23.03.2012. Peran Orang Tua.
"Dan kamu, bapa-bapa, janganlah bangkitkan amarah didalam hati anak-anakmu, tetapi didiklah mereka didalam ajaran dan nasihat Tuhan" [ Efesus 6:4 ].
Didalam ayat ini jelas terlihat peran orang tua, khususnya bapa-bapa, yaitu agar mendidik anak-anaknya didalam ajaran dan nasihat Tuhan. Perintah untuk mendidik anak-anak terutama ditujukan kepada bapa-bapa, walaupun tentunya para ibu memberi pertolongan dan dukungannya. Suami dan isteri perlu melihat peran
orang tua ini dengan jelas, sehingga dapat sehati sepikir dalam mendidik anak-anak. Didalam ayat ini jelas terlihat bahwa suami harus mengambil peran sebagai pemimpin dan penentu kebijaksanaan dalam mendidik anak, sedangkan isteri menjalankan peranannya dalam mendidik anak pada jalur-jalur kebijaksanaan yang telah ditetapkan suami.
Salah satu sebab kegagalan dalam mendidik anak adalah karena sang isteri menjalankan kebijaksanaannya sendiri dalam mendidik anak. Jika ketidak-sesuaian dan pemberontakan telah terjadi pada orang tua, maka tidaklah mengherankan apabila anak-anak memberontak.
Ada dua hal disini yang harus diperhatikan oleh bapa-bapa dalam mendidik anak.
Pertama, jangan membangkitkan amarah didalam hati anak-anak.
Kedua, harus mendidik mereka sesuai dengan ajaran dan nasihat Tuhan.
Pada umumnya, anak-anak dapat dengan mudah menyimpan kemarahan pada orang tua mereka, khususnya terhadap bapanya. Ini terjadi apabila sang bapa tidak bijaksanadalam menjalankan perubahan dari kepemimpinan otoritatif pada masa anak-anak masih kecil, kepada kepemimpinan partisipatif ketika anak-anak menginjak remaja. Karena kekuatiran dan kekurangan iman, seorang bapa tetap menjalankan
kepemimpinan otoritatif padahalanak-anaknya telah menjadi remaja atau dewasa. Tindakan seperti ini menimbulkan kemarahan pada anak-anak. Selanjutnya, kemarahan dapat timbul pada diri anak, apabila seorang bapa tidak menjadi teladan bagi anaknya. Bapa yang suka memerintahkan anaknya agar rajin belajar, berdoa dan membaca Alkitab, padahal ia tidak menjadi teladan dalam bidang-bidang ini, sangat menimbulkan kekecewaan dan kemarahan pada si-anak.
Perkara selanjutnya yang harus dilakukan seorang bapa adalah mendidik anak-anaknya didalam nasihat dan ajaran Tuhan. Ini berarti seorang bapa haruslah memiliki dan menanam kan tujuan, misi, visi serta nilai-nilai luhur kepada anak-anaknya. Karena anak-anak diberikan Tuhan pada orang tua agar kelak mereka dapat meneruskan pelayanan dan perjuangannya.Sesungguhnya, anak-anak adalah karunia Tuhan bagi orang tua sehingga orang tua dapat memperpanjang hari-harinya di muka bumi ini. Para orang tua dapat mencapai banyak hal bagi kemuliaan Tuhan, melalui anak-anak mereka. Itulah sebabnya tugas seorang bapa dengan bantuan seorang ibu tentunya, dalam mendidik anak-anaknya menjadi begitu penting. Tugas ini tidak dapat didelegasikan pada para guru di sekolah atau para pelayan Tuhan di gereja. Mereka semua hanyalah bersifat membantu, tetapi seorang bapalah yang memikultanggung jawab ini.
Tuhan Yesus memberkati.
Didalam ayat ini jelas terlihat peran orang tua, khususnya bapa-bapa, yaitu agar mendidik anak-anaknya didalam ajaran dan nasihat Tuhan. Perintah untuk mendidik anak-anak terutama ditujukan kepada bapa-bapa, walaupun tentunya para ibu memberi pertolongan dan dukungannya. Suami dan isteri perlu melihat peran
orang tua ini dengan jelas, sehingga dapat sehati sepikir dalam mendidik anak-anak. Didalam ayat ini jelas terlihat bahwa suami harus mengambil peran sebagai pemimpin dan penentu kebijaksanaan dalam mendidik anak, sedangkan isteri menjalankan peranannya dalam mendidik anak pada jalur-jalur kebijaksanaan yang telah ditetapkan suami.
Salah satu sebab kegagalan dalam mendidik anak adalah karena sang isteri menjalankan kebijaksanaannya sendiri dalam mendidik anak. Jika ketidak-sesuaian dan pemberontakan telah terjadi pada orang tua, maka tidaklah mengherankan apabila anak-anak memberontak.
Ada dua hal disini yang harus diperhatikan oleh bapa-bapa dalam mendidik anak.
Pertama, jangan membangkitkan amarah didalam hati anak-anak.
Kedua, harus mendidik mereka sesuai dengan ajaran dan nasihat Tuhan.
Pada umumnya, anak-anak dapat dengan mudah menyimpan kemarahan pada orang tua mereka, khususnya terhadap bapanya. Ini terjadi apabila sang bapa tidak bijaksanadalam menjalankan perubahan dari kepemimpinan otoritatif pada masa anak-anak masih kecil, kepada kepemimpinan partisipatif ketika anak-anak menginjak remaja. Karena kekuatiran dan kekurangan iman, seorang bapa tetap menjalankan
kepemimpinan otoritatif padahalanak-anaknya telah menjadi remaja atau dewasa. Tindakan seperti ini menimbulkan kemarahan pada anak-anak. Selanjutnya, kemarahan dapat timbul pada diri anak, apabila seorang bapa tidak menjadi teladan bagi anaknya. Bapa yang suka memerintahkan anaknya agar rajin belajar, berdoa dan membaca Alkitab, padahal ia tidak menjadi teladan dalam bidang-bidang ini, sangat menimbulkan kekecewaan dan kemarahan pada si-anak.
Perkara selanjutnya yang harus dilakukan seorang bapa adalah mendidik anak-anaknya didalam nasihat dan ajaran Tuhan. Ini berarti seorang bapa haruslah memiliki dan menanam kan tujuan, misi, visi serta nilai-nilai luhur kepada anak-anaknya. Karena anak-anak diberikan Tuhan pada orang tua agar kelak mereka dapat meneruskan pelayanan dan perjuangannya.Sesungguhnya, anak-anak adalah karunia Tuhan bagi orang tua sehingga orang tua dapat memperpanjang hari-harinya di muka bumi ini. Para orang tua dapat mencapai banyak hal bagi kemuliaan Tuhan, melalui anak-anak mereka. Itulah sebabnya tugas seorang bapa dengan bantuan seorang ibu tentunya, dalam mendidik anak-anaknya menjadi begitu penting. Tugas ini tidak dapat didelegasikan pada para guru di sekolah atau para pelayan Tuhan di gereja. Mereka semua hanyalah bersifat membantu, tetapi seorang bapalah yang memikultanggung jawab ini.
Tuhan Yesus memberkati.
Renungan Harian ~ 22.03.2012. Peran Seorang Anak - Like Father, Like Son.
"Aku berkata kepadamu, sesungguhnya Anak tidak dapat mengerjakan sesuatu dari diriNya sendiri, jikalau tidak Ia melihat Bapa mengerjakannya; sebab apa yang dikerjakan Bapa, itu juga yang dikerjakan Anak" [ Yohanes 5:19 ].
Peristiwa penyembuhan pada hari Sabat di kolam Betesda, menjadi latar belakang perkataan Yesus pada ayat diatas. Orang-orang Yahudi berusaha menganiaya Yesus, bukan saja karena Ia melakukan penyembuhan itu pada hari Sabat, namun karena Ia mengatakan bahwa TUHAN adalah BapaNya, dengan demikian menyamakan diriNya dengan TUHAN. Sebagai penjelasan atas keberatan orang Yahudi, Yesus mengungkapkan bagaimana hubungan Anak dengan Bapanya itu. Dengan tegas dikatakan bahwa apa yang dikerjakan Bapa, itu juga yang dikerjakan Anak. Disini Yesus mengungkapkan ketaatan mutlak seorang Anak, dan sekaligus Ia menjelaskan bagaimana peran seorang anak itu seharusnya.
Secara sederhana, peran seorang anak seharusnya adalah mencontoh. Seorang anak harus dapat belajar, mencontoh dan mengikuti apa yang dikerjakan bapanya. Didalam dunia jasmani, sering kita temui kasus-kasus dimana profesi anak tepat sama dengan bapanya. Bila bapanya seniman, anaknya juga demikian; bila bapanya bertekun dalam dunia pendidikan, anaknya juga demikian; bahkan bila bapanya presiden, anaknya juga menjadi presiden. Ini sesuatu yang wajar, dan memang seharusnya demikian, karena anak adalah "perluasan diri" seorang bapa.
Tetapi yang saat ini kita bicarakan adalah sesuatu yang bersifat rohani. Maksudnya, seorang anak seharusnya mencontoh bapanya dalam perkara-perkara rohani. Seorang anak harus belajar memahami apa yang menjadi tujuan, misi dan visi bapanya. Seorang anak bukan saja mengikuti apa yang dikerjakan bapanya,
tetapi juga harus meneruskan perjuangan dan pelayanan bapanya.
Tetapi disinilah persoalannya bagi kebanyakan keluarga-keluarga Kristen. Banyak bapa-bapa Kristen yang tidak menjadi bapa rohani bagi anaknya. Bahkan banyak juga kita temui kasus-kasus dimana seorang anak terluka / dilukai oleh bapanya ( yang telah aktif didalam kekristenan ). Sangat sulit bagi seorang anak untuk
mencontoh atau menjadi seperti bapanya, apabila ia terluka. Bahkan mungkin ia memutuskan untuk tidak menjadi seperti bapanya. Sangat disayangkan apabila ini terjadi, karena seorang anak harus memulai
perjuangan dan pelayanannya dari nol lagi. Kita tahu bahwa penyelamatan dunia ini adalah merupakan perju`ngan dan pelayanan yang berkesinambungan, dimana pekerjaan penyelamatan ini dimulai dari seorang bapa yaitu Abraham. Pekerjaan penyelamatan dunia ini tidak dimulai pada saat Yesus memulai pelayananNya. Tetapi Tuhan telah bekerja ribuan tahun sebelumnya, dan dimulai pada diri Abraham.
Jadi, seorang anak haruslah mencontoh bapanya, dan haruslah ia meneruskan perjuangan serta pelayanan bapanya. Itulah yang menjadi peran seorang anak. Juga kita perlu berdoa agar para bapa Kristen dapat menjadi bapa rohani bagi anaknya.
Tuhan Yesus memberkati.
Peristiwa penyembuhan pada hari Sabat di kolam Betesda, menjadi latar belakang perkataan Yesus pada ayat diatas. Orang-orang Yahudi berusaha menganiaya Yesus, bukan saja karena Ia melakukan penyembuhan itu pada hari Sabat, namun karena Ia mengatakan bahwa TUHAN adalah BapaNya, dengan demikian menyamakan diriNya dengan TUHAN. Sebagai penjelasan atas keberatan orang Yahudi, Yesus mengungkapkan bagaimana hubungan Anak dengan Bapanya itu. Dengan tegas dikatakan bahwa apa yang dikerjakan Bapa, itu juga yang dikerjakan Anak. Disini Yesus mengungkapkan ketaatan mutlak seorang Anak, dan sekaligus Ia menjelaskan bagaimana peran seorang anak itu seharusnya.
Secara sederhana, peran seorang anak seharusnya adalah mencontoh. Seorang anak harus dapat belajar, mencontoh dan mengikuti apa yang dikerjakan bapanya. Didalam dunia jasmani, sering kita temui kasus-kasus dimana profesi anak tepat sama dengan bapanya. Bila bapanya seniman, anaknya juga demikian; bila bapanya bertekun dalam dunia pendidikan, anaknya juga demikian; bahkan bila bapanya presiden, anaknya juga menjadi presiden. Ini sesuatu yang wajar, dan memang seharusnya demikian, karena anak adalah "perluasan diri" seorang bapa.
Tetapi yang saat ini kita bicarakan adalah sesuatu yang bersifat rohani. Maksudnya, seorang anak seharusnya mencontoh bapanya dalam perkara-perkara rohani. Seorang anak harus belajar memahami apa yang menjadi tujuan, misi dan visi bapanya. Seorang anak bukan saja mengikuti apa yang dikerjakan bapanya,
tetapi juga harus meneruskan perjuangan dan pelayanan bapanya.
Tetapi disinilah persoalannya bagi kebanyakan keluarga-keluarga Kristen. Banyak bapa-bapa Kristen yang tidak menjadi bapa rohani bagi anaknya. Bahkan banyak juga kita temui kasus-kasus dimana seorang anak terluka / dilukai oleh bapanya ( yang telah aktif didalam kekristenan ). Sangat sulit bagi seorang anak untuk
mencontoh atau menjadi seperti bapanya, apabila ia terluka. Bahkan mungkin ia memutuskan untuk tidak menjadi seperti bapanya. Sangat disayangkan apabila ini terjadi, karena seorang anak harus memulai
perjuangan dan pelayanannya dari nol lagi. Kita tahu bahwa penyelamatan dunia ini adalah merupakan perju`ngan dan pelayanan yang berkesinambungan, dimana pekerjaan penyelamatan ini dimulai dari seorang bapa yaitu Abraham. Pekerjaan penyelamatan dunia ini tidak dimulai pada saat Yesus memulai pelayananNya. Tetapi Tuhan telah bekerja ribuan tahun sebelumnya, dan dimulai pada diri Abraham.
Jadi, seorang anak haruslah mencontoh bapanya, dan haruslah ia meneruskan perjuangan serta pelayanan bapanya. Itulah yang menjadi peran seorang anak. Juga kita perlu berdoa agar para bapa Kristen dapat menjadi bapa rohani bagi anaknya.
Tuhan Yesus memberkati.
Renungan Harian ~ 21.03.2012. Peran Seorang Suami.
"Hai suami, kasihilah isterimu sebagaimana Kristus telah mengasihi jemaat dan telah menyerahkan DiriNya baginya" [ Efesus 5:25 ]
"Demikian juga kamu, hai suami-suami, hiduplah bijaksana dengan isterimu, sebagai kaum yang lebih lemah ! Hormatilah mereka sebagai teman pewaris dari kasih karunia, yaitu kehidupan, supaya doamu jangan terhalang" [ 1 Petrus 3:7 ].
Perintah agar suami mengasihi isteri, dikaitkan dengan perihal Kristus mengasihi Jemaat. Ini berarti suami harus mengasihi isterinya dengan kasih yang dimiliki Kristus. Tuhan mengetahui bahwa di dalam dirinya sendiri, suami tidak memiliki jenis kasih yang mana sanggup untuk mengasihi dan menyerahkan dirinya
bagi isterinya sebagaimana Kristus. Mungkin waktu masih berpacaran dulu, sang pemuda merasa ia akan sanggup mengasihi gadis yang akan menjadi isterinya kelak, sampai mereka mencapai usia lanjut, bahkan sampai mati. Tetapi harus diakui, walaupun sang pemuda telah menjadi Kristen dan mengalami lahir baru,
namun jenis kasih yang dimilikinya kepada sang kekasih adalah jenis kasih manusiawi. Kasih manusiawi ini, tidak akan tahan menghadapi rintangan dan masalah-masalah didalam pernikahan. Telah terbukti di dunia ini, bahwa banyak orang menikah "atas dasar cinta" namun berakhir dengan perceraian. Itulah sebabnya, datang perintah agarsuami mengasihi isterinya, bukan dengan kasih manusiawi, namun dengan kasih yang dimiliki Kristus kepada Jemaat.
Karena itu, apabila seorang suami rindu mentaati perintah Tuhan untuk mengasihi isterinya, maka ia harus bertumbuh sedemikian sehingga kasih Kristus didalam dirinya semakin bertambah. Pertumbuhan dalam kasih Kristus ini, tidak boleh kita samakan denganpertumbuhan dalam iman, pengharapan atau pertumbuhan dalam urapan. Seorang suami mungkin bertumbuh dalam iman , pengharapan dan urapan, sehingga ia semakin dipakai Tuhan dan menjadi semakin terkenal didalam pelayanan. Tetapi seringkali konflik yang kita alami didalam rumah tangga kita, membuktikan bahwa kita belum cukup bertumbuh dalam kasih Kristus sebagaimana mestinya. Bagaimana agar pertumbuhan kita sebagai suami, adalah pertumbuhan didalam kasih Kristus ?
Pertama, karena perintah agar mengasihi isteri ini, disertai janji bagi sang suami, yaitu doanya tidak terhalang, maka seorang suami yang ingin bertumbuh dalam kasih Kristus haruslah seorang yang sangat memperhatikan kehidupan doanya. Seorang suami perlu belajar bagaimana menjaga hubungan dengan isterinya sedemikian sehingga doanya tidak terhalang. Seorang suami haruslah bertumbuh menjadi pahlawan doa, jika ia ingin bertumbuh dalam mengasihi isterinya dengan kasih Kristus. Pahlawan doa disini bukan hanya berarti banyak berdoa, tetapi doanya banyak yang dijawab Tuhan serta berdampak besar bagi pekerjaanNya di muka bumi ini. Seandainya kehidupan doa sang suami dapat diukur, maka kasih sang suami terhadap isterinya juga dapat diukur, karena kehidupan doa suami dan kasihnya kepada isteri adalah dua hal yang mempunyai hubungan langsung.
Kedua, agar seorang suami bertumbuh dalam kasih Kristus, maka ia harus tinggal bersama isterinya. Terjemahan literal dari hiduplah bijaksana dengan isterimu, adalah tinggal bersama ( dwelling with ). Ini berarti, kebersamaan antara suami dan isteri harus bertumbuh baik di dalam kualitas maupun kuantitas. Komunikasi, kontak fisik, keterbukaan sudah termasuk didalamnya.
Tuhan Yesus memberkati.
"Demikian juga kamu, hai suami-suami, hiduplah bijaksana dengan isterimu, sebagai kaum yang lebih lemah ! Hormatilah mereka sebagai teman pewaris dari kasih karunia, yaitu kehidupan, supaya doamu jangan terhalang" [ 1 Petrus 3:7 ].
Perintah agar suami mengasihi isteri, dikaitkan dengan perihal Kristus mengasihi Jemaat. Ini berarti suami harus mengasihi isterinya dengan kasih yang dimiliki Kristus. Tuhan mengetahui bahwa di dalam dirinya sendiri, suami tidak memiliki jenis kasih yang mana sanggup untuk mengasihi dan menyerahkan dirinya
bagi isterinya sebagaimana Kristus. Mungkin waktu masih berpacaran dulu, sang pemuda merasa ia akan sanggup mengasihi gadis yang akan menjadi isterinya kelak, sampai mereka mencapai usia lanjut, bahkan sampai mati. Tetapi harus diakui, walaupun sang pemuda telah menjadi Kristen dan mengalami lahir baru,
namun jenis kasih yang dimilikinya kepada sang kekasih adalah jenis kasih manusiawi. Kasih manusiawi ini, tidak akan tahan menghadapi rintangan dan masalah-masalah didalam pernikahan. Telah terbukti di dunia ini, bahwa banyak orang menikah "atas dasar cinta" namun berakhir dengan perceraian. Itulah sebabnya, datang perintah agarsuami mengasihi isterinya, bukan dengan kasih manusiawi, namun dengan kasih yang dimiliki Kristus kepada Jemaat.
Karena itu, apabila seorang suami rindu mentaati perintah Tuhan untuk mengasihi isterinya, maka ia harus bertumbuh sedemikian sehingga kasih Kristus didalam dirinya semakin bertambah. Pertumbuhan dalam kasih Kristus ini, tidak boleh kita samakan denganpertumbuhan dalam iman, pengharapan atau pertumbuhan dalam urapan. Seorang suami mungkin bertumbuh dalam iman , pengharapan dan urapan, sehingga ia semakin dipakai Tuhan dan menjadi semakin terkenal didalam pelayanan. Tetapi seringkali konflik yang kita alami didalam rumah tangga kita, membuktikan bahwa kita belum cukup bertumbuh dalam kasih Kristus sebagaimana mestinya. Bagaimana agar pertumbuhan kita sebagai suami, adalah pertumbuhan didalam kasih Kristus ?
Pertama, karena perintah agar mengasihi isteri ini, disertai janji bagi sang suami, yaitu doanya tidak terhalang, maka seorang suami yang ingin bertumbuh dalam kasih Kristus haruslah seorang yang sangat memperhatikan kehidupan doanya. Seorang suami perlu belajar bagaimana menjaga hubungan dengan isterinya sedemikian sehingga doanya tidak terhalang. Seorang suami haruslah bertumbuh menjadi pahlawan doa, jika ia ingin bertumbuh dalam mengasihi isterinya dengan kasih Kristus. Pahlawan doa disini bukan hanya berarti banyak berdoa, tetapi doanya banyak yang dijawab Tuhan serta berdampak besar bagi pekerjaanNya di muka bumi ini. Seandainya kehidupan doa sang suami dapat diukur, maka kasih sang suami terhadap isterinya juga dapat diukur, karena kehidupan doa suami dan kasihnya kepada isteri adalah dua hal yang mempunyai hubungan langsung.
Kedua, agar seorang suami bertumbuh dalam kasih Kristus, maka ia harus tinggal bersama isterinya. Terjemahan literal dari hiduplah bijaksana dengan isterimu, adalah tinggal bersama ( dwelling with ). Ini berarti, kebersamaan antara suami dan isteri harus bertumbuh baik di dalam kualitas maupun kuantitas. Komunikasi, kontak fisik, keterbukaan sudah termasuk didalamnya.
Tuhan Yesus memberkati.
Renungan Harian ~ 20.03.2012. Peran Seorang Istri.
"Demikian juga kamu, hai isteri-isteri, tunduklah kepada suamimu, supaya jika ada di antara mereka yang tidak taat kepada Firman, mereka juga tanpa perkataan dimenangkan oleh kelakuan isterinya" [ 1 Petrus 3:1 ].
Setelah keluarga pertama jatuh dalam dosa, TUHAN memberi pengaturan mengenai hubungan suami-isteri sebagai berikut, ".ia ( suami ) akan berkuasa atasmu ( isteri )"
[ Kejadian 3:16 ]. Terjemahan Young's Literal menyatakan, ".he doth rule over thee",
maksudnya suami akan memerintah isterinya. Pertanyaannya sekarang adalah, bagaimana hubungan suami-isteri sebelum kejatuhan. Apakah Adam ditetapkan dari semula untuk memerintah Hawa ? Atau, perihal memerintah ini terjadi karena adanya kejatuhan manusia kedalam dosa ?
Kalau kita perhatikan hubungan Adam dan Hawa di Taman Eden, dapat disimpulkan bahwa hubungan mereka bukanlah yang satu memerintah yang lainnya. Jenis hubungan mereka adalah seperti apa yang kami istilahkan, yaitu jenis "hubungan saling". Hubungan saling adalah suatu hubungan suami-isteri, dimana diantara
mereka terdapat saling melengkapi, saling mengasihi, saling menundukkan diri, saling menasihati dst. Hubungan sedemikian ini dimungkinkan karena adanya kesehatian dan kesatuan sejati diantara keduanya.
Tetapi setelah kejatuhan, terjadi kerusakan hubungan antara manusia dengan TUHAN, dan antara manusia dengan sesamanya. Dalam kondisi seperti inilah, datang perintah TUHAN agar para isteri tunduk kepada suaminya. Tetapi kami percaya bahwa apabila segala kerusakan akibat dosa telah dipulihkan sepenuhnya,
maka "hubungan saling" diantara suami-isteri akan dikembalikan. Suami dan isteri akan saling melengkapi, saling menasihati dan saling menundukkan diri. Dan kami percaya juga bahwa "hubungan saling" yang
terjadi di antara suami-isteri ini, dapat terjadi didalam keluarga-keluarga Kristen yang telah dewasa dan matang. Tetapi, bagaimanapun juga, diawal pernikahan kristen, seorang isteri haruslah tunduk pada suaminya.
Ini bukan berarti bahwa suatu pernikahan yang telah matang dan dewasa, tidak menggenapi lagi firman Tuhan dalam 1 Petrus 3:1, melainkan mereka menggenapinya didalam dimensi iman yang berbeda.
Didalam 1 Petrus 3:1, terdapat janji Tuhan yang indah bagi seorang isteri yang tunduk pada suaminya, yaitu tanpa perkataan, tindakan penundukkan diri seorang isteri, dapat memenangkan seorang suami yang tidak taat pada Firman. Artinya, seorang suami yang tidak taat Firman, akan bertobat dan mentaati Firman, tanpa
dikhotbahi oleh isterinya.
Tetapi yang sering terjadi, kita lihat, adalah seorang isteri yang telah aktif puluhan tahun dalam kekristenan, namun sang suami tetap tidak mengikut Tuhan dan tidak taat Firman. Mengapa demikian ?Mungkin salah satu sebabnya adalah isteri tidak tunduk pada suaminya, dan hanya "tunduk" pada program-program serta aktifitas kekristenan. Kalau memang benar demikian, betapa ruginya bagi sorang isteri, karena ia kehilangan janji Tuhan untuk menyelamatkan suaminya.Mungkin sang isteri berpikir ia mendahulukan kdrajaan sorga dengan mengikuti segala aktifitas kekristenan, dimana tanpa sadar ia telah mengabaikan suaminya.
Apabila sang suami menghendaki isterinya untuk tinggal dirumah menemaninya serta mengurus anak-anak, barangkali lebih baik sang isteri meninggalkan segala program-programnya diluar rumah, dan mengambil tindakan penundukkan diri, melayani suami dananak-anaknya. Tindakan sedemikian ini akan mengundang kuasa Allah bekerja dan menjamah sang suami, sehingga tanpa perkataan ia akan bertobat dan menuruti
Firman.
Semoga para isteri, khususnya yang aktif dalam program-program kekristenan namun suaminya belum mentaati Firman, memutuskan dan mengambil prioritas dengan benar sehingga tidak kehilangan janji Tuhan dalam 1 Petrus 3:1. Amin.
Tuhan Yesus memberkati.
Setelah keluarga pertama jatuh dalam dosa, TUHAN memberi pengaturan mengenai hubungan suami-isteri sebagai berikut, ".ia ( suami ) akan berkuasa atasmu ( isteri )"
[ Kejadian 3:16 ]. Terjemahan Young's Literal menyatakan, ".he doth rule over thee",
maksudnya suami akan memerintah isterinya. Pertanyaannya sekarang adalah, bagaimana hubungan suami-isteri sebelum kejatuhan. Apakah Adam ditetapkan dari semula untuk memerintah Hawa ? Atau, perihal memerintah ini terjadi karena adanya kejatuhan manusia kedalam dosa ?
Kalau kita perhatikan hubungan Adam dan Hawa di Taman Eden, dapat disimpulkan bahwa hubungan mereka bukanlah yang satu memerintah yang lainnya. Jenis hubungan mereka adalah seperti apa yang kami istilahkan, yaitu jenis "hubungan saling". Hubungan saling adalah suatu hubungan suami-isteri, dimana diantara
mereka terdapat saling melengkapi, saling mengasihi, saling menundukkan diri, saling menasihati dst. Hubungan sedemikian ini dimungkinkan karena adanya kesehatian dan kesatuan sejati diantara keduanya.
Tetapi setelah kejatuhan, terjadi kerusakan hubungan antara manusia dengan TUHAN, dan antara manusia dengan sesamanya. Dalam kondisi seperti inilah, datang perintah TUHAN agar para isteri tunduk kepada suaminya. Tetapi kami percaya bahwa apabila segala kerusakan akibat dosa telah dipulihkan sepenuhnya,
maka "hubungan saling" diantara suami-isteri akan dikembalikan. Suami dan isteri akan saling melengkapi, saling menasihati dan saling menundukkan diri. Dan kami percaya juga bahwa "hubungan saling" yang
terjadi di antara suami-isteri ini, dapat terjadi didalam keluarga-keluarga Kristen yang telah dewasa dan matang. Tetapi, bagaimanapun juga, diawal pernikahan kristen, seorang isteri haruslah tunduk pada suaminya.
Ini bukan berarti bahwa suatu pernikahan yang telah matang dan dewasa, tidak menggenapi lagi firman Tuhan dalam 1 Petrus 3:1, melainkan mereka menggenapinya didalam dimensi iman yang berbeda.
Didalam 1 Petrus 3:1, terdapat janji Tuhan yang indah bagi seorang isteri yang tunduk pada suaminya, yaitu tanpa perkataan, tindakan penundukkan diri seorang isteri, dapat memenangkan seorang suami yang tidak taat pada Firman. Artinya, seorang suami yang tidak taat Firman, akan bertobat dan mentaati Firman, tanpa
dikhotbahi oleh isterinya.
Tetapi yang sering terjadi, kita lihat, adalah seorang isteri yang telah aktif puluhan tahun dalam kekristenan, namun sang suami tetap tidak mengikut Tuhan dan tidak taat Firman. Mengapa demikian ?Mungkin salah satu sebabnya adalah isteri tidak tunduk pada suaminya, dan hanya "tunduk" pada program-program serta aktifitas kekristenan. Kalau memang benar demikian, betapa ruginya bagi sorang isteri, karena ia kehilangan janji Tuhan untuk menyelamatkan suaminya.Mungkin sang isteri berpikir ia mendahulukan kdrajaan sorga dengan mengikuti segala aktifitas kekristenan, dimana tanpa sadar ia telah mengabaikan suaminya.
Apabila sang suami menghendaki isterinya untuk tinggal dirumah menemaninya serta mengurus anak-anak, barangkali lebih baik sang isteri meninggalkan segala program-programnya diluar rumah, dan mengambil tindakan penundukkan diri, melayani suami dananak-anaknya. Tindakan sedemikian ini akan mengundang kuasa Allah bekerja dan menjamah sang suami, sehingga tanpa perkataan ia akan bertobat dan menuruti
Firman.
Semoga para isteri, khususnya yang aktif dalam program-program kekristenan namun suaminya belum mentaati Firman, memutuskan dan mengambil prioritas dengan benar sehingga tidak kehilangan janji Tuhan dalam 1 Petrus 3:1. Amin.
Tuhan Yesus memberkati.
Langganan:
Postingan (Atom)