Selasa, 13 Maret 2012

Renungan Harian ~ 24.02.2012. Membesarkan Anak.

"Didiklah orang muda menurut jalan yang patut baginya, maka pada masa tuanyapun ia tidak akan menyimpang dari pada jalan itu" [ Amsal 22:6 ].

Yang dimaksud dengan orang muda dalam ayat ini adalah anak kecil. Pada umumnya istilah anak kecil yang dimaksud berumur sekitar 5 tahun. Alkitab mengajarkan supaya anak kecil dididik menurut jalan yang patut baginya. Apabila hal ini dilakukan, maka akan genaplah janji yang indah ini yaitu, pada masa tuanyapun
ia tidak akan menyimpang dari jalan itu. Seorang anak yang dididik dengan benar, akan menjadi setia sampai masa tuanya. Anak ini tidak akan menyimpang kekiri atau kekanan, ia tidak akan murtad, ia tidak akan meninggalkan Tuhan, ia akan setia sampai akhirnya. Betapa indahnya janji firman Tuhan ini, terutama bagi para orang tua. Ada suatu kepastian bahwa anak-anaknya tidak akan menyimpang dari jalan Tuhan.

Tetapi sering kita lihat dari pengalaman, bagaimana seorang anak yang rajin pergi ke sekolah minggu, ketika menjadi remaja hilang entah kemana. Atau seorang pemuda/i yang aktif dalam pelayanan kekristenan, ketika menikah tenggelam dalam rutinitas rumah tangga tanpa tujuan, misi dan visi yang jelas.

Mengapa demikian ?

Alkitab menjelaskan penyebabnya, yaitu karena ia tidak dididik menurut jalan yang patut baginya. Ia tidak setia di jalan yang seharusnya ia lalui, karena memang ia tidak dilatih untuk menempuh jalan itu.

Setiap anak mempunyai suatu jalan yang seharusnya ia lalui, jika ia ingin berhasil sebagai pelayan Tuhan, sebagai suami/isteri, dan sebagai profesional Kristen. Tetapi anak kecil tidaklah mengetahui jalan itu, juga ia belum dipersiapkan untuk melaluinya dengan tekun. Siapa yang bertanggung jawab untuk memberitahukannya, dan melatihnya agar ia dapat melaluinya dengan setia ?

Tentu saja Orang tualah yang bertanggung jawab dalam hal ini, karena kepada orang tuanya anak-anak ini dititipkan Tuhan. Ayat diatas dapat ditulis sedemikian, " Hai orang tua, didiklah anak-anakmu."

Dalam pengalaman kita, sering dijumpai anak-anak dari "pelayan Tuhan" yang nakal dan susah diatur. Anak-anak ini bahkan terluka pada orang tuanya karena merasa kurang diperhatikan. Mereka merasa orang tuanya lebih memperhatikan "pelayanan" dari pada diri mereka.

Memang membesarkan anak, tidak langsung terlihat hasilnya. Banyak orang tua Kristen lebih senang mengerjakan sesuatu yang langsung dapat dilihat hasilnya, entah itu karier atau apa yang disebut pelayanan. Saatnya, orang tua Kristen perlu belajar memahami cara kerja Tuhan dalam penyelamatan dunia ini. Tuhan
mulai dari satu orang bapa yaitu Abraham,dan penyelamatan ini baru akan dirampungkan oleh keturunannya berabad-abad bahkan berzaman-zaman kemudian. Bagaimana seandainya anak Abraham, nakal-nakal
dan susah diatur ? Bagaimana jika seandainya Ishak dan Yakub tidak setia di jalan yang harus ditempuhnya ? Semoga perintah dalam Amsal 22:6 ini ditaati oleh para orang*tua Kristen, dan semoga genaplah janji Tuhan dengan bangkitnya anak-anak yang setia menempuh jalan yang harus dilaluinya.

Tuhan Yesus memberkati.

Renungan harian ~ 23.03.2012. Peran Orang Tua.

"Dan kamu, bapa-bapa, janganlah bangkitkan amarah didalam hati anak-anakmu, tetapi didiklah mereka didalam ajaran dan nasihat Tuhan" [ Efesus 6:4 ].

Didalam ayat ini jelas terlihat peran orang tua, khususnya bapa-bapa, yaitu agar mendidik anak-anaknya didalam ajaran dan nasihat Tuhan. Perintah untuk mendidik anak-anak terutama ditujukan kepada bapa-bapa, walaupun tentunya para ibu memberi pertolongan dan dukungannya. Suami dan isteri perlu melihat peran
orang tua ini dengan jelas, sehingga dapat sehati sepikir dalam mendidik anak-anak. Didalam ayat ini jelas terlihat bahwa suami harus mengambil peran sebagai pemimpin dan penentu kebijaksanaan dalam mendidik anak, sedangkan isteri menjalankan peranannya dalam mendidik anak pada jalur-jalur kebijaksanaan yang telah ditetapkan suami.

Salah satu sebab kegagalan dalam mendidik anak adalah karena sang isteri menjalankan kebijaksanaannya sendiri dalam mendidik anak. Jika ketidak-sesuaian dan pemberontakan telah terjadi pada orang tua, maka tidaklah mengherankan apabila anak-anak memberontak.

Ada dua hal disini yang harus diperhatikan oleh bapa-bapa dalam mendidik anak.

Pertama, jangan membangkitkan amarah didalam hati anak-anak.

Kedua, harus mendidik mereka sesuai dengan ajaran dan nasihat Tuhan.

Pada umumnya, anak-anak dapat dengan mudah menyimpan kemarahan pada orang tua mereka, khususnya terhadap bapanya. Ini terjadi apabila sang bapa tidak bijaksanadalam menjalankan perubahan dari kepemimpinan otoritatif pada masa anak-anak masih kecil, kepada kepemimpinan partisipatif ketika anak-anak menginjak remaja. Karena kekuatiran dan kekurangan iman, seorang bapa tetap menjalankan
kepemimpinan otoritatif padahalanak-anaknya telah menjadi remaja atau dewasa. Tindakan seperti ini menimbulkan kemarahan pada anak-anak. Selanjutnya, kemarahan dapat timbul pada diri anak, apabila seorang bapa tidak menjadi teladan bagi anaknya. Bapa yang suka memerintahkan anaknya agar rajin belajar, berdoa dan membaca Alkitab, padahal ia tidak menjadi teladan dalam bidang-bidang ini, sangat menimbulkan kekecewaan dan kemarahan pada si-anak.

Perkara selanjutnya yang harus dilakukan seorang bapa adalah mendidik anak-anaknya didalam nasihat dan ajaran Tuhan. Ini berarti seorang bapa haruslah memiliki dan menanam kan tujuan, misi, visi serta nilai-nilai luhur kepada anak-anaknya. Karena anak-anak diberikan Tuhan pada orang tua agar kelak mereka dapat meneruskan pelayanan dan perjuangannya.Sesungguhnya, anak-anak adalah karunia Tuhan bagi orang tua sehingga orang tua dapat memperpanjang hari-harinya di muka bumi ini. Para orang tua dapat mencapai banyak hal bagi kemuliaan Tuhan, melalui anak-anak mereka. Itulah sebabnya tugas seorang bapa dengan bantuan seorang ibu tentunya, dalam mendidik anak-anaknya menjadi begitu penting. Tugas ini tidak dapat didelegasikan pada para guru di sekolah atau para pelayan Tuhan di gereja. Mereka semua hanyalah bersifat membantu, tetapi seorang bapalah yang memikultanggung jawab ini.

Tuhan Yesus memberkati.

Renungan Harian ~ 22.03.2012. Peran Seorang Anak - Like Father, Like Son.

"Aku berkata kepadamu, sesungguhnya Anak tidak dapat mengerjakan sesuatu dari diriNya sendiri, jikalau tidak Ia melihat Bapa mengerjakannya; sebab apa yang dikerjakan Bapa, itu juga yang dikerjakan Anak" [ Yohanes 5:19 ].

Peristiwa penyembuhan pada hari Sabat di kolam Betesda, menjadi latar belakang perkataan Yesus pada ayat diatas. Orang-orang Yahudi berusaha menganiaya Yesus, bukan saja karena Ia melakukan penyembuhan itu pada hari Sabat, namun karena Ia mengatakan bahwa TUHAN adalah BapaNya, dengan demikian menyamakan diriNya dengan TUHAN. Sebagai penjelasan atas keberatan orang Yahudi, Yesus mengungkapkan bagaimana hubungan Anak dengan Bapanya itu. Dengan tegas dikatakan bahwa apa yang dikerjakan Bapa, itu juga yang dikerjakan Anak. Disini Yesus mengungkapkan ketaatan mutlak seorang Anak, dan sekaligus Ia menjelaskan bagaimana peran seorang anak itu seharusnya.

Secara sederhana, peran seorang anak seharusnya adalah mencontoh. Seorang anak harus dapat belajar, mencontoh dan mengikuti apa yang dikerjakan bapanya. Didalam dunia jasmani, sering kita temui kasus-kasus dimana profesi anak tepat sama dengan bapanya. Bila bapanya seniman, anaknya juga demikian; bila bapanya bertekun dalam dunia pendidikan, anaknya juga demikian; bahkan bila bapanya presiden, anaknya juga menjadi presiden. Ini sesuatu yang wajar, dan memang seharusnya demikian, karena anak adalah "perluasan diri" seorang bapa.

Tetapi yang saat ini kita bicarakan adalah sesuatu yang bersifat rohani. Maksudnya, seorang anak seharusnya mencontoh bapanya dalam perkara-perkara rohani. Seorang anak harus belajar memahami apa yang menjadi tujuan, misi dan visi bapanya. Seorang anak bukan saja mengikuti apa yang dikerjakan bapanya,
tetapi juga harus meneruskan perjuangan dan pelayanan bapanya.

Tetapi disinilah persoalannya bagi kebanyakan keluarga-keluarga Kristen. Banyak bapa-bapa Kristen yang tidak menjadi bapa rohani bagi anaknya. Bahkan banyak juga kita temui kasus-kasus dimana seorang anak terluka / dilukai oleh bapanya ( yang telah aktif didalam kekristenan ). Sangat sulit bagi seorang anak untuk
mencontoh atau menjadi seperti bapanya, apabila ia terluka. Bahkan mungkin ia memutuskan untuk tidak menjadi seperti bapanya. Sangat disayangkan apabila ini terjadi, karena seorang anak harus memulai
perjuangan dan pelayanannya dari nol lagi. Kita tahu bahwa penyelamatan dunia ini adalah merupakan perju`ngan dan pelayanan yang berkesinambungan, dimana pekerjaan penyelamatan ini dimulai dari seorang bapa yaitu Abraham. Pekerjaan penyelamatan dunia ini tidak dimulai pada saat Yesus memulai pelayananNya. Tetapi Tuhan telah bekerja ribuan tahun sebelumnya, dan dimulai pada diri Abraham.

Jadi, seorang anak haruslah mencontoh bapanya, dan haruslah ia meneruskan perjuangan serta pelayanan bapanya. Itulah yang menjadi peran seorang anak. Juga kita perlu berdoa agar para bapa Kristen dapat menjadi bapa rohani bagi anaknya.

Tuhan Yesus memberkati.

Renungan Harian ~ 21.03.2012. Peran Seorang Suami.

"Hai suami, kasihilah isterimu sebagaimana Kristus telah mengasihi jemaat dan telah menyerahkan DiriNya baginya" [ Efesus 5:25 ]

"Demikian juga kamu, hai suami-suami, hiduplah bijaksana dengan isterimu, sebagai kaum yang lebih lemah ! Hormatilah mereka sebagai teman pewaris dari kasih karunia, yaitu kehidupan, supaya doamu jangan terhalang" [ 1 Petrus 3:7 ].

Perintah agar suami mengasihi isteri, dikaitkan dengan perihal Kristus mengasihi Jemaat. Ini berarti suami harus mengasihi isterinya dengan kasih yang dimiliki Kristus. Tuhan mengetahui bahwa di dalam dirinya sendiri, suami tidak memiliki jenis kasih yang mana sanggup untuk mengasihi dan menyerahkan dirinya
bagi isterinya sebagaimana Kristus. Mungkin waktu masih berpacaran dulu, sang pemuda merasa ia akan sanggup mengasihi gadis yang akan menjadi isterinya kelak, sampai mereka mencapai usia lanjut, bahkan sampai mati. Tetapi harus diakui, walaupun sang pemuda telah menjadi Kristen dan mengalami lahir baru,
namun jenis kasih yang dimilikinya kepada sang kekasih adalah jenis kasih manusiawi. Kasih manusiawi ini, tidak akan tahan menghadapi rintangan dan masalah-masalah didalam pernikahan. Telah terbukti di dunia ini, bahwa banyak orang menikah "atas dasar cinta" namun berakhir dengan perceraian. Itulah sebabnya, datang perintah agarsuami mengasihi isterinya, bukan dengan kasih manusiawi, namun dengan kasih yang dimiliki Kristus kepada Jemaat.

Karena itu, apabila seorang suami rindu mentaati perintah Tuhan untuk mengasihi isterinya, maka ia harus bertumbuh sedemikian sehingga kasih Kristus didalam dirinya semakin bertambah. Pertumbuhan dalam kasih Kristus ini, tidak boleh kita samakan denganpertumbuhan dalam iman, pengharapan atau pertumbuhan dalam urapan. Seorang suami mungkin bertumbuh dalam iman , pengharapan dan urapan, sehingga ia semakin dipakai Tuhan dan menjadi semakin terkenal didalam pelayanan. Tetapi seringkali konflik yang kita alami didalam rumah tangga kita, membuktikan bahwa kita belum cukup bertumbuh dalam kasih Kristus sebagaimana mestinya. Bagaimana agar pertumbuhan kita sebagai suami, adalah pertumbuhan didalam kasih Kristus ?

Pertama, karena perintah agar mengasihi isteri ini, disertai janji bagi sang suami, yaitu doanya tidak terhalang, maka seorang suami yang ingin bertumbuh dalam kasih Kristus haruslah seorang yang sangat memperhatikan kehidupan doanya. Seorang suami perlu belajar bagaimana menjaga hubungan dengan isterinya sedemikian sehingga doanya tidak terhalang. Seorang suami haruslah bertumbuh menjadi pahlawan doa, jika ia ingin bertumbuh dalam mengasihi isterinya dengan kasih Kristus. Pahlawan doa disini bukan hanya berarti banyak berdoa, tetapi doanya banyak yang dijawab Tuhan serta berdampak besar bagi pekerjaanNya di muka bumi ini. Seandainya kehidupan doa sang suami dapat diukur, maka kasih sang suami terhadap isterinya juga dapat diukur, karena kehidupan doa suami dan kasihnya kepada isteri adalah dua hal yang mempunyai hubungan langsung.

Kedua, agar seorang suami bertumbuh dalam kasih Kristus, maka ia harus tinggal bersama isterinya. Terjemahan literal dari hiduplah bijaksana dengan isterimu, adalah tinggal bersama ( dwelling with ). Ini berarti, kebersamaan antara suami dan isteri harus bertumbuh baik di dalam kualitas maupun kuantitas. Komunikasi, kontak fisik, keterbukaan sudah termasuk didalamnya.

Tuhan Yesus memberkati.

Renungan Harian ~ 20.03.2012. Peran Seorang Istri.

"Demikian juga kamu, hai isteri-isteri, tunduklah kepada suamimu, supaya jika ada di antara mereka yang tidak taat kepada Firman, mereka juga tanpa perkataan dimenangkan oleh kelakuan isterinya" [ 1 Petrus 3:1 ].

Setelah keluarga pertama jatuh dalam dosa, TUHAN memberi pengaturan mengenai hubungan suami-isteri sebagai berikut, ".ia ( suami ) akan berkuasa atasmu ( isteri )"

[ Kejadian 3:16 ]. Terjemahan Young's Literal menyatakan, ".he doth rule over thee",

maksudnya suami akan memerintah isterinya. Pertanyaannya sekarang adalah, bagaimana hubungan suami-isteri sebelum kejatuhan. Apakah Adam ditetapkan dari semula untuk memerintah Hawa ? Atau, perihal memerintah ini terjadi karena adanya kejatuhan manusia kedalam dosa ?

Kalau kita perhatikan hubungan Adam dan Hawa di Taman Eden, dapat disimpulkan bahwa hubungan mereka bukanlah yang satu memerintah yang lainnya. Jenis hubungan mereka adalah seperti apa yang kami istilahkan, yaitu jenis "hubungan saling". Hubungan saling adalah suatu hubungan suami-isteri, dimana diantara
mereka terdapat saling melengkapi, saling mengasihi, saling menundukkan diri, saling menasihati dst. Hubungan sedemikian ini dimungkinkan karena adanya kesehatian dan kesatuan sejati diantara keduanya.

Tetapi setelah kejatuhan, terjadi kerusakan hubungan antara manusia dengan TUHAN, dan antara manusia dengan sesamanya. Dalam kondisi seperti inilah, datang perintah TUHAN agar para isteri tunduk kepada suaminya. Tetapi kami percaya bahwa apabila segala kerusakan akibat dosa telah dipulihkan sepenuhnya,
maka "hubungan saling" diantara suami-isteri akan dikembalikan. Suami dan isteri akan saling melengkapi, saling menasihati dan saling menundukkan diri. Dan kami percaya juga bahwa "hubungan saling" yang
terjadi di antara suami-isteri ini, dapat terjadi didalam keluarga-keluarga Kristen yang telah dewasa dan matang. Tetapi, bagaimanapun juga, diawal pernikahan kristen, seorang isteri haruslah tunduk pada suaminya.

Ini bukan berarti bahwa suatu pernikahan yang telah matang dan dewasa, tidak menggenapi lagi firman Tuhan dalam 1 Petrus 3:1, melainkan mereka menggenapinya didalam dimensi iman yang berbeda.

Didalam 1 Petrus 3:1, terdapat janji Tuhan yang indah bagi seorang isteri yang tunduk pada suaminya, yaitu tanpa perkataan, tindakan penundukkan diri seorang isteri, dapat memenangkan seorang suami yang tidak taat pada Firman. Artinya, seorang suami yang tidak taat Firman, akan bertobat dan mentaati Firman, tanpa
dikhotbahi oleh isterinya.

Tetapi yang sering terjadi, kita lihat, adalah seorang isteri yang telah aktif puluhan tahun dalam kekristenan, namun sang suami tetap tidak mengikut Tuhan dan tidak taat Firman. Mengapa demikian ?Mungkin salah satu sebabnya adalah isteri tidak tunduk pada suaminya, dan hanya "tunduk" pada program-program serta aktifitas kekristenan. Kalau memang benar demikian, betapa ruginya bagi sorang isteri, karena ia kehilangan janji Tuhan untuk menyelamatkan suaminya.Mungkin sang isteri berpikir ia mendahulukan kdrajaan sorga dengan mengikuti segala aktifitas kekristenan, dimana tanpa sadar ia telah mengabaikan suaminya.

Apabila sang suami menghendaki isterinya untuk tinggal dirumah menemaninya serta mengurus anak-anak, barangkali lebih baik sang isteri meninggalkan segala program-programnya diluar rumah, dan mengambil tindakan penundukkan diri, melayani suami dananak-anaknya. Tindakan sedemikian ini akan mengundang kuasa Allah bekerja dan menjamah sang suami, sehingga tanpa perkataan ia akan bertobat dan menuruti
Firman.

Semoga para isteri, khususnya yang aktif dalam program-program kekristenan namun suaminya belum mentaati Firman, memutuskan dan mengambil prioritas dengan benar sehingga tidak kehilangan janji Tuhan dalam 1 Petrus 3:1. Amin.

Tuhan Yesus memberkati.

Renungan Harian ~ 19.03.2012. Tuhan sebagai BAPA.

" Terpujilah TUHAN dan Bapa Tuhan kita Yesus Kristus yang dalam Kristus telah mengaruniakan kepada kita segala berkat rohani di dalam sorga" [ Efesus 1:3 ].

Banyak orang menyatakan bahwa TUHAN adalah Tritunggal, dalam arti tiga pribadi namun satu. Sekalipun kata Tritunggal tidak ada didalam Alkitab, tetapi pemahaman sedemikian sepertinya ada. Tetapi kami lebih senang menjelaskan Allah "Tritunggal", menjadi ALLAH ADALAH KELUARGA. Keluarga sejati adalah satu, sekalipun ada bapa, ibu dan anak-anak. Tuhan adalah keluarga sejati, oleh sebab itu Tuhan adalah satu. Sekalipun Tuhan termanifestasi didalam Bapa, Roh dan Anak, namun sesungguhnya Tuhan adalah satu pribadi.

Didalam Efesus 1, Tuhan sebagai Bapa terlihat berfungsi sebagai pemberi segala berkat rohani didalam sorga ( ayat 3 ), melakukan pemilihan atas kita sebelum dunia dijadikan ( ayat 4 ), menentukan kita untuk menjadi anak-anakNya ( ayat 5 ), melimpahkan kekayaan kasih karuniaNya dalam hal pengampunan dosa
kepada kita ( ayat 7-8 ), memiliki rahasia kehendakNya ( the secret of His will ) atau rencana ( ayat 9 ).

Sekalipun semuanya ini dijalankan didalam AnakNya serta melalui kuasa RohNya, tetapi kita lihat disini bahwa Bapa merupakan sumber segala sesuatu, Dia yang mempunyai rencana dan Penyebab utama segala sesuatu.

Bapa-lah yang menciptakan segala sesuatu melalui AnakNya. Perlu kita pahami dengan baik bahwa menciptakan bukanlah berarti mengadakan sesuatu dari tidak ada menjadi ada. Terjemahan harafiah dari Ibrani 11:3, adalah sesuatu yang terlihat berasal dari sesuatu yang tidak terlihat, artinya dunia jasmani (
terlihat ) berasal dari Tuhan ( tidak terlihat ).Maksudnya, ketika Tuhan menciptakan segala sesuatu, Ia menggunakan DiriNya sendiri sebagai "bahan dasarnya".Menciptakan bukanlah seperti seseorang yang membuat meja dari kayu sebagai bahan dasarnya. Ketika Bapa menciptakan segala sesuatu, Ia menggunakan DiriNya sendiri sebagai bahan dasarnya. Itu sebabnya kami lebih senang menggunakan istilah "memperluas diri ", dari pada istilah "menciptakan'. Jadi Bapa "memperluas DiriNya" didalam dan melalui ciptaanNya.

Demikianlah Tuhan sebagai Bapa, telah memperluas DiriNya. Ia adalah sumber segala sesuatu, penyebab segala sesuatu, dan yang memiliki rencana. Dialah yang menyebabkan adanya keluarga jasmani di muka bumi ini, untuk mengekspresikan keluarga sejati yang di sorga.

Kalau Bapa yang di sorga memiliki peran dan fungsi sedemikian, bukankah Ia juga menghendaki bapa di muka bumi ini juga memiliki peran dan fungsi yang kurang lebih sama dengan DiriNya. Dengan segala keterbatasan yang ada, diharapkan, bapa jasmani yang dimuka bumi ini dapat "memperluas dirinya" melalui dan didalam anak-anaknya. Bapa jasmani perlu menanamkan tujuan, misi, dan visinya kepada anak-anaknya, agar perjuangandan pelayanannya dapat diteruskan turun-temurun. Diharapkan bapa jasmani dapat menjadi "sumber" segala sesuatu bagi keluarganya, yaitu "sumber" urapan, pewahyuan, penghiburan, berkat jasmani dst. Diharapkan, bapa mempunyai rencana bagi keluarganya.

Tentu semua ini dilakukannya dengan bantuan seorang penolong yaitu seorang istri. Apabila terjadi sesuatu kepada keluarganya, maka wajarlah apabila bapa dimintai pertanggung-jawaban. Istri dan anak-anak tentu mempunyai kesalahan, tetapi yang bertanggung jawab adalah seorang bapa.

Tuhan Yesus memberkati.

Renungan Harian ~ 18.03.2012. Mendidik Anak adalah Fungsi Bapak.

"Sebab Aku telah memilih dia, supaya diperintahkannya kepada anak-anaknya dan kepada keturunannya supaya tetap hidup menurut jalan yang ditunjukkan Tuhan, dengan melakukan kebenaran dan keadilan, dan supaya Tuhan memenuhi kepada Abraham apa yang dijanjikanNya kepadanya" [ Kejadian 18:19 ].

Latar belakang ayat ini adalah suatu kejadian dimana Tuhan memiliki rencana hendak memusnahkan Sodom dan Gomorah disebabkan dosa-dosa yang terjadi dikedua kota tersebut. Tetapi Tuhan berpikir apakah Ia akan menyembunyikan rencanaNya kepada Abraham, atau tidak.

Mengapa Tuhan berpikir demikian, adalah karena Ia telah memilih Abraham agar ia menjadi bangsa yang besar dan melalui dia, seluruh kaum di muka bumi mendapat berkat. Demikianlah kejadian yang menjadi latar-belakang ayat diatas.

Ayat diatas [ Kejadian 18:19] mengungkapkan bagaimana tindakan Abraham sebagai orang yang dipilih Tuhan, terhadap anak-anaknya serta keturunannya. Dengan tegas Abraham memerintahkan anak-anaknya serta keturunannya supaya tetap hidup menurut jalan yang ditunjukkan Tuhan. Tindakan Abraham ini sama seperti tindakan Yosua ketika ia berkata pada orang Israel bahwa, ".aku dan seisi rumahku, kami akan beribadah kepada Tuhan !" [ Yosua 24:15 ].

Didalam salah satu terjemahan harafiah dari ayat diatas, tertulis demikian, "for I have known him, that he commandeth his children." Dari terjemahan harafiah ini ( yang lebih tepat ), kita dapat menarik kesimpulan ( dari sisi manusia ) bahwa salah satu alasan mengapa Tuhan memilih Abraham, adalah karena Ia telah mengetahui bahwa Abraham akan memerintahkan anak-anaknya supaya tetap hidup menurut jalan yang ditunjukkan Tuhan. Kalau memang benar demikian, betapa pentingnya bagi seorang bapa untuk memerintahkan anak-anaknya agar mengikuti jalan yang ditunjukkan Tuhan. Didalam suatu keluarga, bapa mempunyai tanggung jawab menjalankan otoritas yang diberikan Tuhan padanya, yaitu dalam hal memerintahkan anak-anaknya agar mengikut Tuhan. Disini kita lihat fungsi bapa didalam keluarga sebagai seorang pendidik, tentunya dengan pertolongan seorang istri.

Tetapi kita harus jelas melihat bahwa tanggung jawab mendidik ( memerintahkan ) anak-anak, terletak dipundak seorang bapa. Tentu saja istri sebagai seorang penolong, akan membantu, demikian juga guru-guru disekolah, serta pelayan-pelayan Tuhan didalam gereja ikut serta mendidik anak-anak. Tetapi tanggung jawab itu ada pada sang bapa. Apabila anak-anak memberontak dan tidak menurut jalan yang ditunjukkan Tuhan, maka pertanggung-jawaban terakhir harus didapat dari seorang bapa.

Apabila fungsi bapa sebagai pendidik dijalankan dengan baik, maka ada tindakan Tuhan yang indah ( sesuai ayat diatas ), yaitu Tuhan akan menepati janjiNya kepada seorang bapa. Tentu saja janji Tuhan semuanya baik dan indah. Amin.

Tuhan Yesus memberkati.